Apem Banyu dalam Tradisi Masyarakat Palembang

Kudapan tradisional ini sudah lama dikenal dan menjadi bagian dari kehidupan sosial maupun budaya.--ig@ambarini
PALTV.CO.ID,- Bagi masyarakat Palembang nama apem banyu tentu bukan hal yang asing.
Kudapan tradisional ini sudah lama dikenal dan menjadi bagian dari kehidupan sosial maupun budaya.
Apem banyu bukan hanya sekadar makanan ringan yang disantap untuk menemani waktu senggang, melainkan juga memiliki nilai simbolis yang erat kaitannya dengan tradisi, terutama dalam acara adat.
Apem banyu ini muncul pada ritual tujuh hari kematian dalam kebiasaan masyarakat Palembang.
Kue ini biasanya disajikan bersama teh tawar, sebagai hidangan yang melengkapi rangkaian doa untuk almarhum.
BACA JUGA:Resmi Hadir! SUV Hybrid Murah Meriah, Harga Setara Avanza tapi Iritnya Kayak Motor
BACA JUGA:Holiday Angkasa Wisata Lepas 180 Jemaah Umroh Perjalanan 12 Hari
Kehadirannya dipercaya memiliki makna mendalam, yaitu sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat agar manusia senantiasa memohon ampun kepada Allah SWT serta menjaga hubungan baik dengan sesama.
Kata apem sendiri dipercaya berasal dari bahasa Arab ‘affan’ yang berarti ampunan.
Apem ini merupakan simbol permohonan maaf kepada sang pencifta maupun kepada sesama manusia.
Saat disajikan dalam acara doa, apem banyu juga menjadi lambang penghormatan terhadap leluhur.
Apem ini muncul pada ritual tujuh hari kematian dalam kebiasaan masyarakat Palembang.--ig@dapuraprilia
Melalui hidangan sederhana ini, keluarga almarhum berusaha mempererat kebersamaan, saling menguatkan, serta menjaga solidaritas antaranggota masyarakat.
BACA JUGA:Syahrial Oesman Lantik Pengurus PMPB Kota Palembang, Randy Aditya Jadi Ketua
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: berbagai sumber