Rumah Apung di Bumi Sriwijaya

Rumah Apung di Bumi Sriwijaya

Rumah apung di tepian Sungai Musi, Palembang.-Daru Harjanto-instagram.com/@daruharjanto

PALEMBANG, PALTV.CO.ID - Keberadaan sungai-sungai besar di Sumatera Selatan turut mempengaruhi kekayaan arsitektur tradisional di wilayah tersebut. Bermacam sungai yang mengalir di Sumatera Selatan antara lain Sungai Musi, Sungai Ogan, dan Sungai Komering.

Sungai sebagai tempat aktivitas masyarakat sehari-hari tidak hanya sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai tempat tinggal.  

Tempat yang sangat istimewa untuk tinggal di sungai adalah rumah apung. Seperti namanya, rumah apung merupakan tempat tinggal yang ditempatkan di atas air agar bisa mengapung di tepi sungai. Rumah apung dibuat dengan bentuk persegi panjang yang berukuran sekitar 36-64 meter. Atap rumah berbentuk pelana dan merupakan atap tenda yang terbuat dari daun nipah kering.

Dindingnya terbuat dari kayu dengan serat yang cukup padat, sedangkan pondasi rumah terbuat dari bambu yang cukup tua sehingga tahan lama. Batang bambu besar dengan diameter berbeda digunakan sebagai pondasi rumah, yang diikat menjadi satu lalu diamankan dengan pasak.

BACA JUGA:Lakukan Cara Ini Untuk Mencegah Ular Masuk Rumah

BACA JUGA:Rumah Kembar Tuan Kentang, Objek Wisata di Pinggiran Sungai Musi

Di sini bambu berfungsi sebagai alat bantu renang untuk rumah. Hingga saat ini alat pengapung juga dilengkapi dengan bahan tambahan seperti tong, ban mobil dan lain-lain.

Rumah apung memiliki dua pintu. Salah satunya menghadap ke sungai, yang lainnya menghadap ke daratan, dan jendelanya terletak di sisi kanan dan kiri rumah, lebih tepatnya di samping pintu.

Ruang utama rumah apung dimaksudkan untuk menerima tamu dan kamar lainnya sebagai kamar tidur. Dapur rumahnya memiliki lokasi berbeda untuk beberapa rumah, sebagian di dalam dan sebagian di luar rumah.

Selain menggunakan papan kayu sebagai dinding rumah, ada beberapa rumah apung juga menggunakan pelupuh, atau bambu yang dipotong dan direntangkan, sebagai dinding rumah. Pelupuh ini banyak digunakan oleh keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. 

BACA JUGA:Rumah Mewah Ternyata Buat Hubungan Cinta Makin Mesra, Benarkah?

BACA JUGA:Praktis dan Ampuh dengan Bahan Alami, 5 Cara Ampuh Mengusir Tikus di Rumah Tanpa Racun

Rumah apung terbuat dari bahan yang dapat mengapung di atas permukaan air, maka dapat dipastikan ketinggian rumah apung mengikuti ketinggian air sungai. Oleh sebab itu, rumah apung merupakan rumah yang tahan banjir.

Rumah apung tidak berpindah dari satu tempat ke tempat lain, meski arusnya deras. Keempat sudut rumah itu ditopang oleh tiang-tiang kokoh yang ditancapkan ke dasar sungai dan juga diikatkan ke sungai dengan tali rotan yang agak besar ke tiang-tiang kayu tembesu utama. 

Jika pemilik rumah menginginkan rumah apung pindah tempat, maka rumah apung harus berperan sebagai rumah yang dapat berjalan di atas sungai selama lantai rumah kering dan air tidak menyentuhnya.

Sejarah Rumah apung dimulai pada masa Kesultanan Palembang. Warga Tionghoa yang datang ke Palembang pada masa Kesultanan harus hidup di atas air. Kemudian mengubah kapal mereka menjadi rumah perahu untuk ditinggali. Lebih banyak orang Cina datang daripada orang-orang dari negara lain seperti India dan lainnya.

BACA JUGA:Rumah Kentang di Jakarta Selatan Paling Berhantu

BACA JUGA:Kiat Beli Rumah Untuk Pasangan Muda 

Biasanya mereka berdagang. Sementara itu, Sungai Musi merupakan sarana transportasi utama. Aturan Kesultanan Palembang bahwa orang Cina harus hidup di tepi sungai tidak merugikan. Rumah apung dibangun hanya dihuni oleh orang Tionghoa awal. 

Masyarakat adat juga bermukim untuk membangun rumah terapung. Orang-orang kolonial juga ingin tinggal di rumah apung.

Sungai Musi merupakan urat nadi lalu lintas. Dalam perkembangannya, penduduk asli pribumi menjual hasil pertanian di seberang sungai melalui sungai musi Palembang. Mereka membawa hasil panen menggunakan rakit.

Pengangkutan kelapa, pisang, dan tanaman lainnya menggunakan rakit. Rakit merupakan susunan perahu paling dasar, dan itu sangat besar sehingga mereka berenang mengikuti arus sungai. Dengan demikian, mereka tidak akan lagi membawa rumah apung ke daerah mereka. Seiring waktu, lempengan itu menjadi rumah.

BACA JUGA:Fitrianti Agustinda Hadiri Peresmian Rehab Rumah Program Baznas

BACA JUGA:Kelebihan serta Kekurangan Penggunaan Wallpaper Dinding Rumah

Orang-orang Eropa yang juga menetap di tanah Sriwijaya juga konon pernah tinggal di rumah-rumah apung tersebut. Bagi mereka, kehidupan di dalam rumah adalah rekreasi dan hiburan, suasana sungai yang ramai dan hiruk pikuk masyarakat menjadi daya tarik tersendiri bagi orang Eropa yang juga tinggal di sana. Suasana sejuk juga menarik orang Eropa untuk tinggal di rumah apung.* 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: berbagai sumber