Memahami Makna Panggilan 'Habib', dan Sejarah Keturunan Nabi Muhammad di Indonesia

Memahami Makna Panggilan 'Habib', dan Sejarah Keturunan Nabi Muhammad di Indonesia

Memahami Makna Panggilan 'Habib', dan Sejarah Keturunan Nabi Muhammad di Indonesia.--(sumber foto: instagram @habibmahdisyahab)

 “Biasanya di wilayah Jawa sampai kakek ke 5 masih tercatat. “Tetapi di wilayah Sumatera seperti  Medan dan Aceh cukup sulit,” jelasnya.

 Menurut Ahmad, jika tidak ada KTP atau KK, permohonan  bisa dibuktikan dengan menyerahkan akta nikah, paspor, atau naskah lain yang bisa membuktikan orang tua orang tersebut.

BACA JUGA:Kini Sudah 12 Jurnalis Yang Meninggal Dalam Tugas Peliputan Konflik Israel-Hamas

 “Nanti kita cek apakah silsilah keluarga ini ada kaitannya dengan buku (orang tua) kita atau tidak. “Kalau kita tidak punya semua (bukti) sampai ketujuh turunannya maka kita tidak bisa membuat buku,” jelas Ahmad.

Gesekan tersebut terlihat jelas pada perkumpulan Arab  Indonesia, Jami'at Khair yang didirikan pada tahun 1901.

Menurut Tiar, perpecahan organisasi tersebut disebabkan adanya perbedaan pendapat mengenai kesetaraan kelompok Sayyid dan non-Sayyid. Pergesekan ini  melahirkan organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyah pada tahun 1914.

Menurut situs Al-Irsyad Al-Islamiyah, pendiri organisasi tersebut, Syekh Ahmad Surkati asal Sudan, memutuskan keluar dari Jami'at Khair karena perbedaan pandangan tentang kesetaraan.

“Meskipun Jami'at Khair tergolong organisasi dengan metode dan fasilitas yang modern, namun pandangan keagamaannya, terutama tentang kesetaraan, masih belum terintegrasi dengan baik.

Hal ini menjadi jelas setelah para pemimpin Jami'at di Khair  menentang keras pendirian Syekh Ahmad. fatwa  tentang Kafaah (kesetaraan).(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: