BACA JUGA:Hari Pertama Tahun 2026, Ikon Kota Palembang Dipadati Wisatawan
QE sendiri dikenal sebagai kebijakan pelonggaran moneter melalui penyuntikan likuiditas ke sistem keuangan.
Secara historis, kondisi tersebut kerap memberikan dorongan positif bagi aset berisiko, termasuk saham teknologi dan aset kripto seperti Bitcoin.
Data dari CME FedWatch juga memperkuat optimisme tersebut. Berdasarkan proyeksi pasar, terdapat peluang sekitar 75 persen bahwa The Fed akan kembali memangkas suku bunga setidaknya dua kali hingga akhir 2026.
Kebijakan moneter yang semakin longgar dinilai berpotensi mendorong arus modal kembali mengalir ke aset digital.
David Schassler, Head of Multi-Asset Solutions VanEck, menilai kinerja Bitcoin saat ini tertinggal cukup jauh dibandingkan indeks Nasdaq 100.
BACA JUGA:Cina Jadi Salah Satu Investor Pembangunan Pelabuhan Samudera Tanjung Carat
BACA JUGA:Mayat Anak Hanyut dari Lubuk Dalam Ditemukan Mengapung di Sungai Ogan Ilir
Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya reversion atau penyesuaian kembali.
Saat ini, arah harga Bitcoin lebih banyak dipengaruhi oleh kombinasi faktor makroekonomi,--Chat GPT image
Dalam situasi pelemahan nilai mata uang fiat dan mulai pulihnya likuiditas global, Bitcoin diproyeksikan berpeluang menjadi aset yang mampu mengungguli pasar pada 2026.
Geopolitik Masih Membayangi Pasar
Meski demikian, risiko global masih menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
Ketegangan geopolitik, mulai dari konflik Rusia dan Ukraina, dinamika kawasan Timur Tengah, hingga hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China, berpotensi menekan sentimen investor secara global.
Namun, sebagian analis melihat peluang di balik ketidakpastian tersebut. Jika tensi geopolitik mereda dan stabilitas global membaik, pasar keuangan berpeluang mengalami pemulihan secara bertahap.
BACA JUGA:Hari Pertama Tahun 2026, Ikon Kota Palembang Dipadati Wisatawan