BACA JUGA:Tujuh Hari Pencarian, Bocah Tenggelam di Sungai Komering Ditemukan Meninggal Dunia
Dalam skenario tersebut, aset berisiko termasuk Bitcoin berpotensi ikut menikmati dampak positifnya, mengingat karakter Bitcoin yang sangat sensitif terhadap sentimen makroekonomi.
Tekanan Jual Mereda, Permintaan Mulai Terbentuk
Dari sisi on-chain, sinyal pemulihan mulai terlihat. Laporan K33 Research menyebutkan bahwa pasar kripto berpotensi keluar dari fase distribusi berat yang berlangsung sepanjang 2024 hingga 2025.
Tekanan jual dinilai telah mendekati titik jenuh, sementara kepemilikan jangka panjang mulai menunjukkan tren peningkatan.
Diperkirakan, total kepemilikan long-term holder dapat menutup 2026 di atas 12,16 juta BTC. Angka tersebut mencerminkan kembalinya kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang Bitcoin.
Peralihan dari dominasi tekanan jual menuju terbentuknya permintaan beli (buy-side demand) juga didorong oleh semakin luasnya akses institusional serta kejelasan kerangka regulasi di berbagai negara.
BACA JUGA:Diduga Dianiaya Teman Sendiri, Pelajar Perempuan OKI Tempuh Jalur Hukum
BACA JUGA:Cina Jadi Salah Satu Investor Pembangunan Pelabuhan Samudera Tanjung Carat
Penelitian dari Copper turut menyoroti perubahan pola pergerakan Bitcoin pasca kehadiran ETF spot.
Bitcoin kini cenderung bergerak dalam mini-cycle berbasis cost basis, bukan lagi mengikuti siklus empat tahunan klasik.
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di sekitar level cost basis 84.000 dolar AS, zona yang secara historis kerap menjadi titik balik pergerakan harga.
Dengan berbagai faktor tersebut, arah Bitcoin pada 2026 dinilai akan sangat bergantung pada keseimbangan antara kebijakan moneter global, stabilitas geopolitik, serta perilaku investor institusional dan jangka panjang.