Kisah Dokter Gadungan : Ingatkan Pentingnya Memeriksa Riwayat Pemalsuan Dalam Proses Verifikasi Tenaga Medis

Kisah Dokter Gadungan : Ingatkan Pentingnya Memeriksa Riwayat Pemalsuan Dalam Proses Verifikasi Tenaga Medis-- instagram.com/@info_surabaya
Bahkan, celah yang dimanfaatkan oleh Susanto adalah kebijakan rumah sakit yang saat itu banyak dilakukan secara online selama masa pandemi COVID-19. Proses yang seharusnya berlapis-lapis dan ketat ini ternyata bisa ditembus dengan mudah olehnya.
Anggota Biro Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Dewa Nyoman Sutayana, mengungkapkan keheranannya terhadap kasus ini dan menggarisbawahi pentingnya memeriksa riwayat pemalsuan dalam proses kredensial.
Selain itu, ia berpendapat bahwa ketika seorang dokter pindah tempat praktik, perusahaan tempatnya bekerja sebelumnya seharusnya melakukan verifikasi yang lebih ketat, termasuk meminta surat keterangan bekerja dan melakukan pengecekan riwayat praktik profesi.
Dalam respons terhadap kasus ini, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, menekankan pentingnya proses verifikasi yang lebih ketat pada tahap awal kontrak tenaga kesehatan.
Ia mengatakan bahwa komite medik harus memastikan bahwa kompetensi nakes (tenaga kesehatan) sesuai dengan pernyataan yang dilampirkan dalam surat dan sertifikat mereka.
Selain itu, dr. Nadia mengingatkan bahwa rumah sakit seharusnya melakukan proses cross-check data nakes dengan pemerintah daerah dan berbagai organisasi dan asosiasi rumah sakit. Hal ini harus dilakukan untuk mencegah kasus serupa seperti yang terjadi di RS PHC Surabaya.
Kisah dokter gadungan ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya proses kredensial dan verifikasi yang kuat dalam sistem kesehatan. Kasus ini juga mengingatkan kita bahwa tidak ada ruang bagi pemalsuan dalam praktik medis yang seharusnya didasarkan pada keahlian dan etika yang kuat.*
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: berbagai sumber