Pelarian mereka tidaklah mudah. Selama dua hari, Varel dan rekan-rekannya terus berlari dan bersembunyi, berusaha menjauh dari kejaran pihak perusahaan. Dalam kondisi lelah dan penuh ketakutan, mereka akhirnya bertemu dengan sesama WNI lainnya.
Pertemuan itu membawa secercah harapan. Varel kemudian diarahkan menuju tempat penampungan milik Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja.
Di sana, ia bertemu dengan banyak warga Indonesia lainnya yang mengalami nasib serupa, termasuk yang berasal dari Sumatera Selatan dan Kota Palembang.
BACA JUGA:Sistem Pendingin Canggih Nokia, Rahasia Performa Stabil Tanpa Panas Berlebih
BACA JUGA:KAI Divre III Palembang Layani 77.500 Penumpang Selama Momen Libur Lebaran Idul Fitri 1447 H
Di tempat penampungan tersebut, Varel menghabiskan waktu selama kurang lebih tiga bulan. Selama itu, ia hidup dalam ketidakpastian sambil menunggu kepastian untuk bisa kembali ke tanah air.
Dengan penuh harap, Varel memohon kepada pemerintah, khususnya Pemerintah Kota Palembang dan Gubernur Sumatera Selatan, agar dirinya dan rekan-rekannya segera dipulangkan ke Indonesia. Ia hanya ingin kembali ke rumah, berkumpul dengan keluarga, dan melupakan pengalaman pahit yang nyaris merenggut masa depannya.
Kisah Varel menjadi pengingat bagi banyak orang agar lebih berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan di luar negeri, terutama yang berasal dari sumber tidak resmi. Di balik janji gaji besar, bisa saja tersembunyi risiko besar yang mengancam keselamatan jiwa.