Ketiga, membuat kondisi keuangan lebih siap menghadapi risiko dan ketidakpastian di masa depan.
BACA JUGA:Diduga Keracunan Usai Konsumsi MBG Seorang Siswa SMPN 31 Palembang Dilarikan Ke Puskesmas
BACA JUGA:Tak Disangka! Pria yang Dikira Pembeli Sayur Ini Ternyata Penjambret
Meski demikian, OJK mengingatkan agar masyarakat tidak gegabah dalam berinvestasi. Fenomena ikut-ikutan tren atau Fear of Missing Out (FOMO) justru berpotensi menimbulkan kerugian.
Setiap orang memiliki profil risiko dan kebutuhan keuangan yang berbeda, sehingga strategi investasi tidak bisa disamaratakan.
Selain inflasi, OJK juga menyoroti kebiasaan konsumsi yang tanpa disadari mempercepat habisnya uang.
Uang yang hanya disimpan dalam bentuk tabungan biasa akan tergerus inflasi.--Freepik.com
Gaya hidup serba non-tunai atau cashless memang praktis, tetapi sering membuat pengeluaran tidak terkontrol. Tanpa perencanaan yang jelas, transaksi kecil yang berulang dapat menguras keuangan.
Kebiasaan hangout tanpa tujuan, sering berkunjung ke pusat perbelanjaan, hingga tergoda diskon juga menjadi pemicu pemborosan.
Ditambah lagi, membeli barang konsumtif dengan sistem kredit dapat menambah beban keuangan dalam jangka panjang.
BACA JUGA:Motorola G17 Melengkapi Lini Seri G dengan Baterai Besar dan Kamera 50 MP
BACA JUGA:Material Bodi Motorola G17 Terasa Solid, Hadirkan Kesan Premium di Segmen Menengah
OJK mendorong masyarakat untuk lebih rutin mengevaluasi pola belanja dan membuat perencanaan keuangan yang realistis.
Hidup hemat bukan berarti membatasi diri secara berlebihan, melainkan menempatkan kebutuhan sebagai prioritas utama.
Sebagai langkah perlindungan, masyarakat juga diminta menerapkan prinsip 2L sebelum berinvestasi, yakni Legal dan Logis.
Pastikan produk dan lembaga investasi terdaftar serta diawasi oleh OJK agar terhindar dari praktik investasi bodong yang semakin marak.