PALTV.CO.ID,- Banyak orang merasa gaji dan uang bulanan seolah tak pernah cukup, meski pola pengeluaran tidak jauh berbeda dari sebelumnya.
Kondisi ini bukan semata-mata karena gaya hidup boros, melainkan dampak dari inflasi yang perlahan menggerus daya beli masyarakat.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan bahwa inflasi menyebabkan harga barang dan jasa terus mengalami kenaikan.
Akibatnya, nilai riil uang yang dimiliki masyarakat menurun dari waktu ke waktu. Nominalnya mungkin sama, tetapi kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan semakin berkurang.
Menurut OJK, menyimpan uang tanpa perencanaan justru berisiko. Uang yang hanya disimpan dalam bentuk tabungan biasa akan tergerus inflasi.
Sebagai ilustrasi, tabungan sebesar Rp1 juta dengan inflasi 5 persen per tahun akan memiliki nilai riil setara Rp950.000 pada tahun berikutnya.
BACA JUGA:Bocoran Detail Harga Apple iPhone 18, Bisa Jadi Mirip dengan iPhone 17
BACA JUGA:Ini Sosok Pengacara Asal Palembang Misnan Hartono, Dibalik Kasus Jambret Viral Di Sleman
Kondisi ini membuat masyarakat perlu lebih sadar dalam mengelola keuangan. Salah satu langkah yang dinilai efektif adalah investasi.
Dengan menempatkan dana pada instrumen investasi yang memiliki potensi imbal hasil di atas inflasi, nilai uang tidak hanya terjaga, tetapi juga berpeluang bertumbuh.
OJK mencontohkan, jika Rp1 juta diinvestasikan pada instrumen dengan tingkat imbal hasil 7 persen per tahun, nilainya bisa meningkat menjadi Rp1.070.000.
Artinya, uang tidak hanya bertahan dari tekanan inflasi, tetapi juga menghasilkan tambahan nilai.
Investasi dinilai penting setidaknya karena tiga alasan utama. Pertama, membantu menjaga dan meningkatkan nilai uang di tengah kenaikan harga.
Banyak orang merasa gaji dan uang bulanan seolah tak pernah cukup--Freepik.com
, mendukung pencapaian tujuan keuangan jangka pendek hingga jangka panjang, seperti dana pendidikan, liburan, dan masa pensiun.