Perang Tarif AS–Eropa Meledak! Emas Cetak Rekor Fantastis, Bitcoin Justru Terguncang
Bitcoin (BTC) justru tertekan memicu gelombang likuidasi besar yang mengguncang pasar kripto.--Chat GPT image
BACA JUGA:Dari UMKM hingga Fintech, Ekonomi Digital Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi
BACA JUGA:Bergaya Vespa Klasik, Desain 60-an, Royal Alloy GPS 245 Special Resmi Dirilis
Ketika ketegangan geopolitik meningkat, investor global kembali melakukan refleks klasik: lari ke aset aman. Emas menjadi tujuan utama.
Harga emas melonjak tajam hingga menyentuh sekitar US$4.690 per ons troi, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Lonjakan ini mempertegas posisi emas sebagai aset lindung nilai paling dipercaya saat risiko ekonomi dan politik meningkat.
Tidak hanya emas, harga perak juga ikut terangkat, menembus level di atas US$94 per ons.
Sementara itu, pasar saham global justru dibuka melemah, mencerminkan kekhawatiran bahwa konflik dagang AS–Eropa bisa menekan pertumbuhan ekonomi dan mengganggu rantai perdagangan dunia.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa, di saat krisis, investor masih memprioritaskan stabilitas dibanding potensi imbal hasil tinggi.
BACA JUGA:Bergaya Vespa Klasik, Desain 60-an, Royal Alloy GPS 245 Special Resmi Dirilis
BACA JUGA:Dari UMKM hingga Fintech, Ekonomi Digital Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi
Bitcoin Tertekan, Likuidasi Besar Tak Terhindarkan
Berbeda dengan emas, Bitcoin justru menunjukkan wajah yang lebih rapuh. Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, BTC bergerak searah dengan aset berisiko.

pasar masih memperlakukan emas dan Bitcoin dengan cara yang sangat berbeda.--Chat GPT image
Harga Bitcoin sempat turun sekitar 3%, dari area US$95.000 ke kisaran US$92.000, sebelum mencoba stabil di sekitar US$92.600. Penurunan ini langsung memicu likuidasi besar-besaran di pasar derivatif kripto.
Total likuidasi tercatat mencapai sekitar US$864 juta, dengan posisi long mendominasi lebih dari US$780 juta. Mayoritas likuidasi terjadi dalam waktu singkat, menandakan tingginya tekanan leverage di pasar.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: indodax

