Di sisi lain, program SPHP jagung ini hadir di tengah tekanan yang dialami peternak unggas akibat penurunan harga ayam hidup dan telur di tingkat produsen.
Berdasarkan data dari Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga ayam pedaging hidup saat ini berada di bawah harga acuan pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah.
Kondisi ini menyebabkan margin keuntungan peternak semakin menipis.
Tidak hanya ayam pedaging, harga telur ayam ras juga mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
Harga telur di tingkat produsen tercatat berada di bawah harga acuan pemerintah, sehingga menambah beban bagi peternak.
Situasi ini menjadi semakin sulit karena di saat yang sama harga pakan justru masih relatif tinggi.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Bapanas bersama Bulog mempercepat penyaluran jagung SPHP sebagai solusi penyediaan pakan dengan harga lebih terjangkau.
Langkah ini diharapkan mampu menekan biaya produksi peternak sehingga keseimbangan harga di tingkat peternak dapat kembali stabil.
Program SPHP jagung ini juga menargetkan lebih dari 5.000 peternak mikro, kecil, dan menengah yang tersebar di 26 provinsi.
Populasi unggas yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 53 juta ekor. Pada tahap awal, penyaluran jagung SPHP diproyeksikan mencapai lebih dari 200 ribu ton dan akan diperluas sesuai kebutuhan di lapangan.
Dengan adanya program ini, pemerintah berharap stabilitas harga pakan dapat terjaga dan industri peternakan unggas nasional tetap berjalan sehat.
Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan peternak, konsumen, dan ketersediaan pangan nasional secara berkelanjutan, sehingga rantai pasok pangan tetap kuat di tengah dinamika harga pasar.