PALEMBANG, PALTV.CO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di Sumatera Selatan akan datang lebih awal, dimulai pada Mei hingga September 2026, dengan kondisi lebih panas dan kering dibandingkan tahun sebelumnya.
Prediksi ini disampaikan oleh Nandang Pangaribowo selaku Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan, yang menjelaskan bahwa fenomena El Nino lemah menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya suhu dan potensi kekeringan, sehingga masyarakat diimbau waspada terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan. Kamis (02/04).
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan, Nandang Pangaribowo, menjelaskan bahwa saat ini wilayah Sumatera Selatan masih berada dalam periode musim hujan yang diprediksi berlangsung hingga April 2026.
“Perlu kami sampaikan bahwasanya saat ini wilayah Sumatera Selatan masih berlangsung musim hujan dan diprediksi akan berlangsung hingga April tahun 2026 ini,” ujar Nandang.
BACA JUGA:Hampir Rp1 Miliar Dana BOS SMAN 2 Prabumulih Dibobol, Polisi Bongkar Sindikat Siber
BMKG juga mengungkapkan bahwa fenomena El Nino yang terjadi bukan dalam kategori ekstrem atau super kuat seperti yang sering disebut “El Nino Godzilla”, melainkan masih dalam kategori lemah. --Foto : M. Aidil - PALTV
Memasuki Mei 2026, Sumatera Selatan diperkirakan mulai memasuki musim kemarau yang berlangsung hingga September. Ia menegaskan bahwa kemarau tahun ini diproyeksikan lebih panas dibandingkan tahun 2025.
“Untuk prediksi musim kemarau di wilayah Sumatera Selatan tahun 2026 ini memang sesuai arahan, bila Sumatera Selatan akan masuk musim kemarau di bulan Mei sampai dengan September 2026. Musim kemarau tahun ini juga diprediksi akan datang lebih awal dan lebih panas dari tahun sebelumnya,” jelasnya.
BMKG juga mengungkapkan bahwa fenomena El Nino yang terjadi bukan dalam kategori ekstrem atau super kuat seperti yang sering disebut “El Nino Godzilla”, melainkan masih dalam kategori lemah. Meski demikian, dampaknya tetap perlu diwaspadai.
“Kami belum menyampaikan adanya El Nino kategori super kuat. Saat ini masih dalam kategori El Nino lemah, namun dampaknya cukup signifikan, khususnya bagi wilayah yang memiliki lahan gambut,” tambah Nandang.
BACA JUGA:Kurs Dolar AS Hari Ini 2 April 2026: Dolar AS Bertahan, Rupiah Bergerak Terbatas
BACA JUGA:Triwulan I 2026, Penumpang KAI Divre III Palembang Tumbuh 15 Persen
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan, Nandang Pangaribowo, --Foto : M. Aidil - PALTV
Ia menjelaskan, wilayah dengan lahan gambut seperti Musi Banyuasin, Banyuasin, dan Ogan Komering Ilir memiliki potensi tinggi terhadap munculnya titik panas (hotspot) yang dapat memicu karhutla. Bahkan, kondisi ini berpotensi menimbulkan bencana asap seperti yang pernah terjadi pada tahun 2015, 2019, dan 2023.