PALTV.CO.ID,- Hidup hemat dan menabung sejak lama diajarkan kepada masyarakat Indonesia sebagai jalan menuju kemapanan finansial.
Namun, dalam praktiknya, upaya tersebut kerap terkendala faktor sejarah dan struktur sosial yang turut membentuk pola pengeluaran masyarakat.
Dalam kajian sejarah sosial masyarakat Indonesia digambarkan lebih akrab dengan dua kondisi ekstrem, yakni hidup serba berkecukupan dan hidup dalam keterbatasan.
Di antara keduanya, konsep hidup hemat belum sepenuhnya tumbuh sebagai nilai sosial yang mengakar kuat.
Pola ini berakar dari relasi sosial masa lalu, ketika jumlah penduduk masih relatif sedikit dan keterikatan antarsesama menjadi hal yang sangat penting.
Pada masa itu, keterikatan sosial diwujudkan melalui berbagai bentuk pemberian, seperti hadiah, jamuan, fasilitas, hingga penghargaan simbolik.
BACA JUGA:Rupiah Bergerak Stabil, Dolar AS Bertahan di Kisaran Rp16.700-an
BACA JUGA:Morbidelli C252V: Mesin V-Twin yang Membuat Touring Kian Nikmat
Pemberian tersebut berfungsi menjaga rasa aman, loyalitas, dan posisi dalam tatanan sosial. Seiring berjalannya waktu, pola ini tidak hilang, melainkan bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.
Memasuki era modern, praktik keterikatan tersebut berkembang menjadi apa yang kini dikenal sebagai investasi sosial.
Memberi tidak lagi semata simbol kesetiaan, tetapi juga menjadi sarana untuk menjaga relasi, posisi, dan jaringan sosial, baik untuk kepentingan jangka pendek maupun jangka panjang.
Bagi masyarakat dengan kondisi ekonomi yang stabil, praktik ini tidak banyak memengaruhi keseimbangan keuangan.
konsep hidup hemat belum sepenuhnya tumbuh sebagai nilai sosial yang mengakar kuat.--copilot.AI.com
Namun, bagi masyarakat dengan kondisi ekonomi terbatas, tuntutan sosial tersebut sering kali menjadi tekanan tersendiri.
Dalam situasi tertentu, pengeluaran justru muncul bukan karena kebutuhan pribadi, melainkan karena kewajiban sosial yang sulit dihindari.