Standard Chartered menyoroti posisi Ethereum sebagai jaringan utama bagi DeFi, stablecoin, NFT, dan tokenisasi aset.
Berbeda dengan Bitcoin yang lebih dikenal sebagai “emas digital”, Ethereum berfungsi sebagai mesin ekonomi kripto.
Saat ini, mayoritas stablecoin global dan aplikasi keuangan terdesentralisasi masih berjalan di atas jaringan Ethereum. Fakta ini menjadikannya fondasi utama ekosistem keuangan berbasis blockchain.
Menurut Kendrick, keunggulan ini akan semakin terasa ketika dunia keuangan tradisional mulai bermigrasi ke blockchain.
Regulasi AS Bisa Jadi Pemicu Ledakan Ethereum
BACA JUGA:PLN Terus Percepat Pemulihan Kelistrikan Aceh, 6.432 Desa Telah Kembali Menyala
BACA JUGA:Ziarah ke Makam Orang Tua, Motor Warga Palembang Raib di TPU Kandang Kawat
Salah satu katalis terpenting yang disorot Standard Chartered adalah perkembangan regulasi kripto di Amerika Serikat, khususnya pembahasan CLARITY Act di Senat.
Target Harga Ethereum Terus Naik, Bitcoin Mulai Terdesak?--Chat GPT image
Jika undang-undang ini disahkan, industri kripto akan mendapatkan kepastian hukum yang selama ini ditunggu-tunggu institusi besar.
Kendrick menilai, regulasi yang jelas justru akan menguntungkan Ethereum lebih besar dibanding Bitcoin, karena membuka ruang ekspansi DeFi, stablecoin, dan tokenisasi aset secara legal dan masif.
Dengan kata lain, ketika Wall Street masuk kripto secara penuh, Ethereum diprediksi menjadi pintu utamanya.
Upgrade Jaringan Jadi Senjata Utama ETH Menuju 2030
BACA JUGA:PLN Terus Percepat Pemulihan Kelistrikan Aceh, 6.432 Desa Telah Kembali Menyala
BACA JUGA:Pramac Yamaha Buka Musim MotoGP 2026 dengan Peluncuran Livery Perdana
Tak hanya soal regulasi, Standard Chartered juga menyoroti rencana peningkatan kapasitas Layer-1 Ethereum hingga 10 kali lipat.