Perang Dunia III Jadi Isu Global, Bitcoin Akan Tumbang atau Justru Naik Kelas sebagai Safe Haven?
Bitcoin diprediksi bisa melemah atau justru naik kelas--foto: chat gpt
PALTV.CO.ID- Isu Perang Dunia III kembali mencuat ke permukaan dan langsung mengguncang pasar global. Ketegangan di Eropa Timur yang belum mereda, meningkatnya tekanan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik, hingga rivalitas terbuka negara-negara besar membuat investor kembali waspada terhadap risiko konflik berskala luas.
Dalam situasi penuh ketidakpastian seperti ini, perhatian pasar tidak hanya tertuju pada saham, emas, atau minyak, tetapi juga pada Bitcoin.
Aset kripto terbesar di dunia ini kembali diuji: apakah hanya akan ikut tertekan seperti aset berisiko lain, atau justru mengukuhkan diri sebagai “emas digital” di tengah ancaman perang global?
Reaksi Awal: Bitcoin Biasanya Ikut Tertekan
Sejarah menunjukkan bahwa fase awal krisis geopolitik hampir selalu memicu satu respons utama di pasar keuangan: mencari likuiditas.
BACA JUGA:Morbidelli C252V, Moge Look dengan Kubikasi Ramah Pemula, Cruiser 250cc yang Gaya Tetap Chill
Investor global cenderung menjual aset berisiko, mengurangi leverage, dan memegang kas atau instrumen paling likuid.
Dalam fase ini, Bitcoin jarang langsung tampil sebagai aset lindung nilai. Justru sebaliknya, BTC kerap bergerak searah dengan pasar saham dan aset berisiko lainnya.
Tekanan jual muncul karena dolar AS menguat, likuiditas global mengetat, dan kebutuhan dana tunai meningkat.
Fenomena ini menegaskan satu hal penting: pada saat kepanikan memuncak, narasi jangka panjang—seperti kelangkaan Bitcoin atau sifat desentralisasinya—sementara kalah oleh kebutuhan likuiditas jangka pendek.
Pola Klasik Pasar Saat Konflik Meletus
Jika melihat sejarah konflik besar, pola pasar global cenderung berulang. Pada tahap awal eskalasi, ketidakpastian dijual habis-habisan. Pasar saham biasanya melemah karena risiko meningkat dan arah kebijakan belum jelas.

Bitcoin sebagai safe haven global--foto: chat gpt
Namun, setelah beberapa waktu, fokus pasar mulai bergeser. Investor tidak lagi hanya bereaksi terhadap berita perang, tetapi mulai menganalisis dampak
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: berbagai sumber

