Bitcoin Meledak ke Rp1,6 Miliar! Sinyal Awal Super Reli atau Sekadar Euforia Sesaat?
Kenaikan tajam Bitcoin terjadi tak lama setelah rilis data inflasi Amerika Serikat (Consumer Price Index/CPI) terbaru.--Chat GPT image
PALTV.CO.ID,- Pasar kripto kembali bergolak. Bitcoin (BTC) mencuri perhatian global setelah harganya melesat tajam dan sempat menembus level $95.000, atau setara Rp1,6 miliar per koin, dalam satu hari perdagangan.
Lonjakan ini langsung memicu pertanyaan besar di kalangan investor: apakah ini awal reli besar berikutnya, atau hanya reaksi sesaat pasar?
Kenaikan tajam Bitcoin terjadi tak lama setelah rilis data inflasi Amerika Serikat (Consumer Price Index/CPI) terbaru.
Data tersebut memberi angin segar bagi aset berisiko, termasuk kripto, yang selama ini sangat sensitif terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Pada saat artikel ini ditulis, harga Bitcoin stabil di area $95.500, menguat lebih dari 4% dalam 24 jam terakhir. Volume perdagangan melonjak drastis, menandakan minat beli kembali membanjiri pasar setelah periode konsolidasi yang cukup panjang.
Data Inflasi AS Jadi Pemantik Ledakan Harga
BACA JUGA:Kuota LPG 3 Kg 2026 Turun, Agen di Palembang Keluhkan Pasokan
BACA JUGA:Sunyi Tanpa Tawa, Beginilah Suasana Rumah Balita 3 Tahun di Gandus Terjangkit Cacingan
Katalis utama reli Bitcoin kali ini datang dari laporan CPI Desember. Inflasi AS tercatat sesuai ekspektasi pasar, bahkan untuk core inflation—inflasi inti yang tidak memasukkan harga pangan dan energi—angknya justru lebih rendah dari perkiraan.
Secara bulanan, inflasi inti hanya naik 0,2%, sementara secara tahunan berada di 2,6%, sedikit di bawah proyeksi analis. Angka ini memperkuat optimisme bahwa tekanan inflasi mulai benar-benar mereda.
Bagi pelaku pasar, data tersebut adalah sinyal penting: The Fed tidak memiliki urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga.

Kenaikan tajam Bitcoin terjadi tak lama setelah rilis data inflasi Amerika Serikat--Chat GPT image
Bahkan, peluang penurunan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan kembali terbuka jika tren inflasi tetap terkendali.
Dalam kondisi seperti ini, aset berisiko—mulai dari saham teknologi hingga kripto—biasanya menjadi tujuan utama aliran dana segar. Bitcoin pun kembali dipandang sebagai aset lindung nilai alternatif sekaligus instrumen spekulatif berpotensi tinggi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: indodax
