BACA JUGA:Samsung Kesulitan Menentukan Harga Galaxy S26 dan Diduga Rugi untuk Setiap Galaxy Z TriFold
Sejarah kerajinan emas di Tanjung Batu diyakini memiliki kaitan erat dengan penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.
Salah satu tokoh yang sering disebut dalam kisah turun-temurun masyarakat adalah Sayyid Makdum, seorang ulama yang diyakini membawa pengaruh besar dalam perkembangan keahlian mengolah logam mulia.
Pada masa kolonial Belanda, keterampilan ini semakin berkembang dan dikenal dengan istilah “Kun Nijverhied”, sebuah sebutan yang bermakna seni yang lahir dari sifat rajin dan tekun.
Istilah tersebut mencerminkan karakter para pengrajin Tanjung Batu yang sabar, teliti, dan konsisten dalam menghasilkan karya berkualitas.
Dalam praktiknya, bahan yang digunakan para pengrajin tidak terbatas pada emas murni saja.
Perak, tembaga, dan kuningan juga kerap dimanfaatkan, terutama untuk menyesuaikan kebutuhan dan daya beli konsumen.
BACA JUGA:7 HP 2 Jutaan RAM 8/256 GB Terbaik 2026
BACA JUGA:Libur Akhir Tahun Menjadi Berkah Bagi Pelaku Usaha Pempek di Palembang
Tidak jarang logam-logam tersebut dilapisi emas atau perak agar tampil lebih mewah, tanpa menghilangkan keindahan desainnya.
Fleksibilitas dalam pemilihan bahan ini membuat kerajinan Tanjung Batu mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Produk perhiasan hasil karya pengrajin Tanjung Batu tidak hanya dipasarkan di wilayah Ogan Ilir atau Palembang.
Jangkauan pemasarannya telah meluas ke berbagai daerah di Sumatera Selatan seperti Lahat dan OKU, bahkan menembus provinsi lain seperti Jambi, Bengkulu, Lampung, hingga Jakarta dan sejumlah wilayah di Pulau Jawa.
Penyebaran ini menunjukkan bahwa kualitas dan keunikan kerajinan emas Tanjung Batu mampu bersaing dengan produk dari daerah lain.
BACA JUGA:Pertumbuhan Ekonomi Sumsel 2026 Diprediksi Meningkat hingga 5,8 Persen