Tanjung Batu Ogan Ilir, Sentra Kerajinan Emas dan Perak Warisan Zaman Kolonial

Minggu 04-01-2026,10:05 WIB
Reporter : Leni Marlina
Editor : Hanida Syafrina

Perjalanan industri kerajinan ini tidak selalu mulus, pandemi COVID-19 menjadi salah satu ujian terberat bagi para pengrajin.

Penurunan daya beli masyarakat dan terbatasnya aktivitas perdagangan membuat permintaan perhiasan merosot tajam.

Banyak pengrajin terpaksa menghentikan produksi, bahkan sebagian harus beralih profesi menjadi buruh atau pedagang informal demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kondisi tersebut meninggalkan dampak ekonomi yang cukup signifikan bagi masyarakat Tanjung Batu.

Meski demikian, harapan untuk bangkit tetap ada.

Para pengrajin selalu melakukan pembaharuan baik dalam bentuk pelatihan keterampilan maupun pengembangan desain dan teknologi produksi.

BACA JUGA:Laga Sumsel United Hadapi Persekat Tegal Diprediksi Berlangsung Sengit

BACA JUGA:Libur Akhir Tahun Menjadi Berkah Bagi Pelaku Usaha Pempek di Palembang

Pelatihan teknik baru seperti chrome, pewarnaan, atau finishing modern dinilai penting agar produk perhiasan Tanjung Batu semakin menarik dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

Selain itu, pendampingan dalam pemasaran digital juga diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas.

Kerajinan emas dan perak di Kelurahan Tanjung Batu bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga warisan budaya yang mencerminkan sejarah, keuletan, dan kreativitas masyarakat Ogan Ilir.

Dengan dukungan yang tepat dan adaptasi terhadap perkembangan zaman, sentra kerajinan ini memiliki potensi besar untuk terus bertahan dan berkembang, sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pengrajin di masa depan.

Kategori :