PALTV.CO.ID - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 7 Mei 2026, menunjukkan pergerakan yang masih fluktuatif di tengah berbagai sentimen global dan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
Meski sempat tertekan hingga mendekati level terlemah sepanjang tahun ini, Rupiah mulai menunjukkan tanda penguatan seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap kondisi geopolitik global serta langkah intervensi yang dilakukan Bank Indonesia.
Dari beberapa sumber, berdasarkan data pasar spot, Rupiah dibuka menguat ke kisaran Rp17.336 per Dolar AS pada perdagangan pagi hari.
Posisi tersebut lebih baik dibanding penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.387 per Dolar AS.
BACA JUGA:Cara Memilih Perhiasan Emas yang Tepat Berdasarkan Jenis dan Karakter Model
BACA JUGA:Program Tebas Tebang Pemkot Prabumulih untuk Bantu Warga Buka Lahan Produktif
Penguatan Rupiah dipengaruhi sentimen positif pasar global setelah muncul kabar mengenai potensi meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran.
Selain itu, pelemahan indeks Dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia turut memberikan ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
Dolar AS dilaporkan melemah terhadap Yen Jepang dan Euro setelah pasar mulai memperhitungkan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat dalam beberapa bulan ke depan.
Meski demikian, tekanan terhadap Rupiah masih cukup besar. Dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar Rupiah sempat menyentuh level Rp17.425 hingga Rp17.445 per Dolar AS, yang menjadi salah satu posisi terlemah sepanjang 2026.
BACA JUGA:Nasib Pilu Warga Plaju, Saat Ban Motor Pecah , Malah Dibegal 2 Pelaku Bersajam di Kertapati
BACA JUGA:16 Korban Kecelakaan Bus ALS Jalani Identifikasi DNA di RS Bhayangkara Palembang
Pelemahan indeks Dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia turut memberikan ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.--magnific.com/@jannoon028
Kondisi tersebut dipicu oleh tingginya permintaan Dolar AS di pasar domestik, kekhawatiran investor terhadap kondisi global, serta ketidakpastian arah ekonomi dunia.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia mengambil langkah strategis dengan memperketat aturan pembelian Dolar AS.