Pendekatan ini dinilai efektif karena:
Operator transportasi memiliki kebutuhan kendaraan dalam jumlah besar
Efisiensi biaya operasional EV lebih menarik dibanding BBM
Adopsi EV bisa lebih cepat melalui sektor B2B dibanding konsumen individu
Dengan kata lain, VinFast tidak menunggu pasar terbentuk—mereka justru “menciptakan pasar” melalui penggunaan massal.
3. Ekspansi Infrastruktur dan Ekosistem
VinFast tidak hanya menjual kendaraan, tetapi juga membangun ekosistem kendaraan listrik secara menyeluruh. Strategi ini mencakup:
Pengembangan jaringan stasiun pengisian daya
Sistem baterai dan kemungkinan battery swapping
Dukungan layanan purna jual
Pendekatan berbasis ekosistem ini menjadi pembeda utama dibanding banyak kompetitor. Bahkan, dalam ekspansi ke negara lain, VinFast menekankan bahwa mereka ingin membangun ekosistem mobilitas, bukan sekadar menjual mobil.
Hal ini penting karena salah satu hambatan terbesar adopsi EV di ASEAN adalah keterbatasan infrastruktur.
4. Investasi Besar di Indonesia sebagai Hub ASEAN
Indonesia menjadi salah satu kunci utama dalam strategi ekspansi VinFast di Asia Tenggara. Negara ini memiliki beberapa keunggulan:
Populasi besar (pasar otomotif terbesar di ASEAN)
Sumber daya nikel melimpah untuk baterai EV