Tenun Tuan: Dari Warisan Keluarga Menuju Asa Pelestarian Budaya Palembang

Selasa 03-02-2026,13:46 WIB
Reporter : Sulaiman
Editor : Abidin Riwanto

“Makanya kami berubah nama menjadi Tenun Tuan pada 2024 lalu,dan benar saja, omset kami di tahun itu mencapai Rp500 juta,” jelasnya.

 

Produksi Mandiri dari Nol Jadi Keunikan Tenun Tuan

Sarifudin menjelaskan, keunikan Tenun Tuan terletak pada kemampuannya memproduksi kain sesuai permintaan masing-masing pembeli. Mulai dari motif, bahan baku hingga intensitas warna, seluruh prosesnya juga dikerjakan secara mandiri karena memiliki alat produksi sendiri yaitu ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin).

“Kalau merek lain itukan bukan miliknya sendiri, karena pembuatan motifnya masih mengupah yang lain. Tapi kalau kami semua produksi dari nol sendiri,” imbuhnya.

Tidak banyak yang tahu bahwa pembuatan satu kain tenun melalui proses panjang. Benang terbagi menjadi dua jenis yaitu untuk kain dasar dan untuk motif. Proses finishing kain sendiri melalui lima tahapan, sementara pembuatan motif membutuhkan tujuh hingga delapan tahapan.


Tenun Tuan menjadi simbol warisan keluarga Palembang yang terus dijaga, membawa asa pelestarian budaya lokal agar tetap hidup lintas generasi.--Foto: dok. PTBA

“Dari awal hingga akhir, proses finishing memakan waktu sekitar tiga minggu, sementara penyelesaian kain membutuhkan tambahan waktu sekitar dua hari. Dengan demikian, satu helai kain tenun membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan hingga siap digunakan,” tuturnya.

Tenun Tuan Menggerakan Ekonomi Warga Lokal

Dalam menjalankan bisnis Tenun Tuan, Sarifudin dibantu rekan-rekannya sekitar 30 orang yang berasal dari lingkungan sekitar Tuan Kentang. Dimana 20 orang diantaranya merupakan penenun tetap, sementara lainnya terlibat dalam penggulungan benang, pemintalan, dan pembuatan motif.


Tenun Tuan menjadi simbol warisan keluarga Palembang yang terus dijaga, membawa asa pelestarian budaya lokal agar tetap hidup lintas generasi.--Foto: dok. PTBA

“Yang bukan penenun itu hampir semuanya warga lokal. Dari benang sampai motif, semua melibatkan masyarakat sekitar,” lanjutnya.

Model kerja ini bukan hanya menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga memastikan transfer pengetahuan berlangsung secara berkelanjutan.

Dukungan PTBA dan Rumah BUMN 

Dukungan besar juga datang dari PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang membantu pemasaran ke luar kota, seperti Jakarta dan Mandalika, bahkan hingga ke pameran internasional Tong-Tong Fair di Belanda.

Tak hanya dalam hal pemasaran, Sarifudin mengakui bahwa bimbingan dari PTBA ini sangat krusial bagi perkembangan bisnisnya, mulai dari pelatihan di Rumah BUMN Banyuasin, pemberian nama usaha, hingga desain kemasan (packaging) yang lebih modern dan berkelas.

Kategori :