PALEMBANG, PALTV.CO.ID- Di sebuah kawasan bernama Tuan Kentang, Palembang, bunyi hentakan alat tenun manual berpadu dengan benang-benang berwarna yang dirangkai penuh ketelatenan. Pada 3 Februari 2026.
Di sanalah Tenun Tuan tumbuh, bukan sekadar sebagai usaha, tetapi juga perpanjangan napas budaya yang diwariskan lintas generasi.
Pemilik Tenun Tuan, Sarifudin mengaku, dirinya tidak serta-merta membangun usaha ini dari nol. Jauh sebelum nama Tenun Tuan dikenal, orang tuanya telah lebih dulu berbisnis kain tenun sejak tahun 1970-an.
“Tapi waktu itu orang tua saya hanya mengerjakan kain untuk pesanan saja, jadi memang sangat terbatas,” jelasnya.
Perubahan Nama Rumah Tanjung Antik ke Tenun Tuan
Tonggak perubahan dimulai sekitar tahun 2010, ketika Sarifudin memutuskan ikut terjun langsung dalam bisnis tenun keluarganya. Kala itu, dirinya melihat potensi besar yang selama ini tersembunyi: keterampilan, keunikan motif, dan nilai budaya yang belum tergarap maksimal.
BACA JUGA:Rupiah Sedikit Menguat, BI Catat Kurs Dolar di Kisaran Rp16.700–Rp16.800
Usaha ini sempat dikenal sebagai Rumah Tanjung Antik, sebuah fase pengembangan awal sebelum resmi menjadi Tenun Tuan. Ketiadaan izin usaha kala itu membuat pengembangan dilakukan perlahan, sembari membenahi sistem kerja dan penjualan.
“Saat izin terbit, akhirnya usaha saya berubah nama menjadi Tenun Tuan, kenapa namanya itu? Karena produk yang saya jual inikan tenun dan lokasinya di Tuan Kentang, makanya saya mengubah namanya menjadi Tenun Tuan,” urainya.
Bertahan di Tengah Gelombang Perubahan
Sarifudin bercerita, pasar Tenun bisnisnya ini sempat menjangkau luar daerah seperti Bali melalui penjualan online. Namun saat pandemi covid-19 melanda, penjualan pun mengalami penurunan drastis.
“Periode 2018 hingga 2022 itu menjadi masa yang paling menantang dengan penurunan permintaan yang sangat signifikan. Akhirnya kami belajar membaca daya beli, dari situlah kami sadar bahwa kami harus beradaptasi,” kenangnya.
Tenun Tuan menjadi simbol warisan keluarga Palembang yang terus dijaga, membawa asa pelestarian budaya lokal agar tetap hidup lintas generasi.--Foto: dok. PTBA
Perubahan strategi pun dilakukan, termasuk rebranding nama dan penguatan kerja sama dengan galeri seperti Raja Tenun, yang kini menjadi kanal utama penjualan. Mayoritas produk Tenun Tuan pun dipasarkan melalui galeri.