PALEMBANG, PALTV.CO.ID - Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatera Selatan (Sumsel) menyoroti masih tingginya angka kemiskinan di daerah, meski sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perbaikan sepanjang 2025.
Kepala Perwakilan BI Sumsel, Bambang Pramono mengatakan, inflasi di Sumsel masih terjaga. Namun, persoalan kemiskinan dinilai perlu mendapat perhatian lebih serius karena angkanya masih berada di atas rata-rata nasional.
“Kalau inflasi Alhamdulillah masih terjaga. Tapi kalau kita bicara kemiskinan, meskipun sudah membaik, angkanya masih sekitar 10,15 persen, dan ini masih lebih tinggi dibandingkan angka nasional sekitar 9,05 persen,” kata Kepala Perwakilan BI Sumsel, Bambang Pramono, Rabu, 28 Januari 2026.
Persoalan kemiskinan dinilai perlu mendapat perhatian lebih serius karena angkanya masih berada di atas rata-rata nasional.--Foto : Hafid Zainul - PALTV
Menurut Bambang, Gubernur BI menargetkan angka kemiskinan dapat ditekan hingga satu digit. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan upaya ekstra melalui sinergi berbagai program lintas sektor.
BACA JUGA:Menjamu Garudayaksa FC, Sumsel United Dipastikan Tampil Full Team
BACA JUGA:Dugaan Anggaran Rp 275 Untuk Multimedia, Plt Kepala Disdukcapil Akan Konfirmasi Ke Perencanaan
Kepala Perwakilan BI Sumsel, Bambang Pramono mengatakan, inflasi di Sumsel masih terjaga. --Foto : Hafid Zainul - PALTV
“Artinya memang perlu upaya-upaya ekstra. Berbagai sinergi program diharapkan bisa mengangkat masyarakat berpendapatan rendah keluar dari garis kemiskinan,” ujarnya.
Bambang Pramono menambahkan, upaya penurunan kemiskinan tidak hanya bergantung pada bantuan sosial, tetapi juga perlu dikaitkan dengan pengembangan ekonomi masyarakat.
Sinergi antara pemerintah daerah provinsi, kabupaten dan kota, instansi terkait, serta sektor perbankan dinilai menjadi kunci.
“Apakah itu bantuan sosial, kemudian dikaitkan dengan pengembangan-pengembangan ekonomi rakyat, ini yang nanti bisa menjadi program bersama,” pungkasnya.