PALTV.CO.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada di bawah tekanan pada perdagangan hari ini.
Dari beberapa sumber, berdasarkan data pasar valuta asing, dolar AS tercatat bertahan di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.900 per dolar AS, dengan level dominan berada di sekitar Rp16.800-an. Kondisi ini menunjukkan bahwa rupiah belum mampu keluar dari bayang-bayang tekanan eksternal, meski pergerakan relatif stabil dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Penguatan dolar AS secara global masih menjadi faktor utama yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. BACA JUGA:HP Infinix Note Edge Terbaru Sangat Mirip iPhone BACA JUGA:Palembang Juara Turnamen Basket 3x3 Gebyar Mandiri 2026 Sentimen pasar internasional saat ini masih didominasi oleh sikap hati-hati investor terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat, khususnya terkait suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed). Ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama membuat dolar tetap menjadi aset lindung nilai (safe haven) yang menarik di tengah ketidakpastian ekonomi global. Selain faktor kebijakan moneter, kondisi geopolitik dan perlambatan ekonomi global turut memberikan tekanan tambahan. Ketegangan di beberapa kawasan dunia mendorong pelaku pasar untuk mengalihkan asetnya ke instrumen yang dianggap lebih aman, sehingga permintaan terhadap dolar AS tetap kuat. BACA JUGA:Bahaya Mengintai! Portal Sako Baru Miring Ancam Nyawa Pengguna Jalan BACA JUGA:Pemain Angklung Hilang Tenggelam di Sungai Musi Empat Lawang Dampaknya, mata uang negara berkembang cenderung bergerak terbatas atau melemah, termasuk rupiah yang belum menunjukkan penguatan signifikan. Dari dalam negeri, sentimen domestik sejauh ini belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan eksternal tersebut. Meski Bank Indonesia (BI) terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan moneter dan intervensi di pasar valas, ruang penguatan rupiah masih terbatas.dolar AS bertahan di level Rp16.700 akibat kondisi ekonomi global--freepik Pelaku pasar menilai upaya BI lebih berfokus pada menjaga volatilitas agar tidak terlalu tajam, bukan mendorong rupiah menguat secara agresif. Pergerakan rupiah yang bertahan di level Rp16.800-an juga mencerminkan sikap wait and see dari investor. BACA JUGA:Morbidelli C252V Saat Menikung: Antara Sains dan Sensasi Balap BACA JUGA:Sampah Terus Bertambah, Palembang Masih Kekurangan Armada Truk Pengangkut Aktivitas pasar cenderung berhati-hati sambil menunggu rilis data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun global. Di sisi domestik, investor mencermati perkembangan inflasi, neraca perdagangan, serta arah kebijakan fiskal pemerintah. Sementara dari eksternal, fokus pasar tertuju pada data ekonomi AS dan sinyal lanjutan dari The Fed. Analis pasar uang menilai bahwa selama sentimen global masih belum kondusif, rupiah berpotensi bergerak dalam rentang terbatas. Level Rp16.700 hingga Rp16.900 per dolar AS diperkirakan masih menjadi area pergerakan jangka pendek. BACA JUGA:Biaya Perawatan Morbidelli C252V: Cruiser Premium yang Tetap Ramah di Kantong Pengguna BACA JUGA:Morbidelli C252V: Sekilas Tentang Cruiser Urban Bergaya Klasik-Modern Penguatan rupiah dinilai baru akan terjadi apabila terdapat katalis positif yang cukup kuat, seperti meredanya ketegangan global atau sinyal pelonggaran kebijakan moneter AS. Di sisi lain, stabilnya rupiah di level saat ini juga memberikan sedikit ruang bagi pelaku usaha untuk melakukan perencanaan, meski masih dibayangi risiko fluktuasi.
rupiah melemah ke kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS--freepik Bagi sektor impor, nilai tukar yang masih tinggi menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi industri yang sangat bergantung pada bahan baku dari luar negeri. Sementara bagi eksportir, kondisi ini relatif menguntungkan karena nilai tukar yang lemah dapat meningkatkan daya saing produk di pasar global. BACA JUGA:Morbidelli C252V: Sekilas Tentang Cruiser Urban Bergaya Klasik-Modern BACA JUGA:Meledak! Kebab Durian Becek Viral Ramaikan Kuliner Palembang Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika global. Pasar menanti kejelasan arah kebijakan moneter global serta perkembangan ekonomi dunia yang dapat mengubah sentimen investor. Selama dolar AS masih bertahan kuat, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum sepenuhnya mereda. Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar dan masyarakat diimbau untuk tetap mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik secara berkala. Stabilitas nilai tukar rupiah akan sangat bergantung pada keseimbangan antara faktor eksternal dan upaya kebijakan dalam negeri dalam menjaga kepercayaan pasar.