Optimisme tidak hanya datang dari CZ. Sejumlah tokoh besar ikut melontarkan proyeksi yang membuat pasar semakin panas.
Pendiri Cardano, Charles Hoskinson, memperkirakan Bitcoin bisa menembus US$250.000 pada 2026. Ia menilai ekosistem kripto akan berkembang ke arah sistem kredit non-kustodial, membuat altcoin tak lagi sepenuhnya bergantung pada pergerakan Bitcoin.
BACA JUGA:Viral di Medsos, IRT di Palembang Melahirkan di Teras Mushola Al Ikhlas
BACA JUGA:Pelaku Persetubuhan Anak Tiri Diamankan Polisi Usai Nyaris Diamuk Warga di 13 Ulu
Sementara analis kripto ShieldedMonk memproyeksikan Bitcoin berada di kisaran US$175.000–US$200.000, terutama jika terjadi rotasi modal dari emas dan aset lindung nilai tradisional ke kripto.
Dari sisi institusional, Grayscale bahkan menyebut Bitcoin berpeluang mencetak rekor tertinggi baru pada paruh pertama 2026—sekaligus mengakhiri pola siklus empat tahunan yang selama ini dianggap “pakem” pasar kripto.
AS dan Bitcoin: Dari Musuh Jadi Aset Strategis?
Narasi semakin menarik ketika CEO Ark Invest, Cathie Wood, menyebut kemungkinan Amerika Serikat mempertimbangkan Bitcoin sebagai bagian dari cadangan strategis nasional.
“Rencana awalnya adalah memiliki 1 juta Bitcoin. Jadi saya justru menilai pemerintah akan mulai melakukan pembelian,” ujar Wood dalam sebuah pernyataan.
BACA JUGA:Pelaku Persetubuhan Anak Tiri Diamankan Polisi Usai Nyaris Diamuk Warga di 13 Ulu
BACA JUGA:Dana Minim Bukan Halangan, Ini Deretan Mobil Bekas Dibawah Rp 100 Juta
Jika skenario ini benar-benar terjadi, maka kripto bukan lagi sekadar aset spekulatif, melainkan instrumen strategis negara—sesuatu yang hampir tak terbayangkan satu dekade lalu.
Antara Optimisme dan Realita
Meski sinyal-sinyal positif semakin kuat, super cycle tetaplah sebuah interpretasi, bukan kepastian. Pasar kripto masih rentan terhadap guncangan global, perubahan kebijakan mendadak, hingga faktor geopolitik.
Namun satu hal jelas:
Keputusan SEC, respons CZ, dan derasnya arus modal institusi telah mengubah lanskap kripto secara fundamental.