Sepanjang 2025, data on-chain sempat menunjukkan fluktuasi jumlah Bitcoin yang dimiliki Tether.
Setelah pembelian besar di kuartal pertama, kepemilikan BTC perusahaan bahkan sempat menembus angka 100.000 BTC, sebelum kembali turun.
Kondisi ini memicu spekulasi liar di media sosial, dengan tudingan bahwa Tether diam-diam menjual Bitcoin untuk mengambil keuntungan.
Namun, isu tersebut langsung dibantah oleh pihak manajemen.
Tether menjelaskan bahwa perubahan saldo bukan disebabkan oleh aksi jual, melainkan kontribusi ke entitas afiliasi yang juga menyimpan Bitcoin dalam jumlah signifikan.
BACA JUGA:SUV Nissan Tampil Makin Sporty, Desain Baru Jadi Sorotan Pecinta Otomotif
BACA JUGA:Strategi Menata Keuangan 2026 agar Resolusi Awal Tahun Benar-Benar Terwujud
Klarifikasi ini mempertegas bahwa Tether tidak memperlakukan Bitcoin sebagai aset trading jangka pendek, melainkan cadangan strategis jangka panjang.
Dampak ke Pasar Kripto Global
Dengan pembelian terbaru ini, posisi Tether sebagai pembeli institusional konsisten semakin sulit diabaikan.
Di tengah volatilitas harga dan ketidakpastian kebijakan moneter global, tekanan beli dari pemain seperti Tether menciptakan dinamika tersendiri di pasar Bitcoin.
Strategi akumulasi kuartalan yang disiplin, ditambah diversifikasi ke emas, menunjukkan pendekatan penyimpanan nilai yang tidak biasa bagi penerbit stablecoin.
Jika tren ini berlanjut, Tether bukan hanya akan dikenang sebagai penerbit USDT, tetapi sebagai salah satu institusi paling berpengaruh dalam ekosistem Bitcoin global.
BACA JUGA:SUV Nissan Tampil Makin Sporty, Desain Baru Jadi Sorotan Pecinta Otomotif
BACA JUGA:Potensi Emas Sungai Are Tradisi Mendulang Turun-Temurun di Desa Ujan Mas
Satu hal yang jelas: saat banyak orang masih bertanya “Bitcoin mau ke mana?”, Tether sudah lebih dulu bertindak. Dan dalam dunia kripto, tindakan sering kali berbicara jauh lebih keras daripada prediksi.