Model lama yang masih menjadi andalan Tesla semakin kehilangan daya saing di tengah maraknya peluncuran model baru dari para pesaing.
Selain masalah persaingan, faktor eksternal lainnya juga turut berkontribusi terhadap penurunan penjualan Tesla di Eropa. CEO Tesla, Elon Musk, menjadi sorotan akibat dukungan politiknya terhadap kelompok sayap kanan di Eropa.
BACA JUGA:Waktu Molor PT RMK Belum Ada Kesepakatan Ganti Rugi Lahan Warga
BACA JUGA:Dalam Kondisi Sakit Fitrianti Agustinda Diperiksa Penyidik Kejari Palembang Selama Dua Jam
Hal ini menimbulkan kontroversi dan memicu gerakan boikot terhadap Tesla di beberapa negara Eropa. Beberapa diler Tesla mengalami perusakan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan dan pandangan politik Musk.
jumlah pendaftaran kendaraan Tesla baru di Uni Eropa hanya mencapai 19.046 unit--ilustrasi pribadi
Selain itu, hubungan Elon Musk dengan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menjadi perhatian publik. Trump yang sebelumnya mengancam akan menerapkan kebijakan proteksionisme dan perang dagang dengan Eropa membuat banyak konsumen enggan untuk membeli produk Tesla.
Kekhawatiran bahwa Tesla akan menghadapi hambatan perdagangan tambahan jika Trump kembali berkuasa semakin memperburuk sentimen pasar terhadap merek tersebut.
Di sisi lain, meskipun Tesla mengalami penurunan, pasar kendaraan listrik di Uni Eropa secara keseluruhan justru mengalami pertumbuhan sebesar 28,4 persen dalam dua bulan pertama tahun ini.
BACA JUGA:Percobaan Pencurian di Warung Gagal, Pelaku Diamankan Bhabinkamtibmas
Hal ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap kendaraan listrik masih kuat, meskipun beberapa produsen, termasuk Tesla, menghadapi tantangan dalam menjaga daya saing mereka.
Direktur Jenderal ACEA, Sigrid de Vries, menekankan bahwa meskipun ada pertumbuhan di sektor kendaraan listrik, permintaan secara keseluruhan masih belum mencapai tingkat yang diperlukan untuk memastikan transisi menuju mobilitas tanpa emisi berjalan dengan lancar.
Ia menyoroti pentingnya adanya lebih banyak insentif bagi konsumen dalam bentuk potongan pajak dan subsidi pembelian agar kendaraan listrik semakin terjangkau.
Selain itu, investasi dalam infrastruktur pengisian daya juga perlu ditingkatkan agar pengguna kendaraan listrik merasa lebih nyaman dalam menggunakan mobil mereka untuk perjalanan jarak jauh.
BACA JUGA:BRI Dorong UMKM Indonesia Go Global, Cetak Potensi Transaksi Rp28 Miliar di Amerika Serikat