Bos BYD Beberkan Strategi Jangka Panjang Menjaga Harga EV Tetap Kompetitif
Petinggi BYD menyebut bahwa subsidi dan keringanan pajak memang membantu mempercepat adopsi kendaraan listrik,--BYD.ID
PALTV.CO.ID,- Industri kendaraan listrik global tengah berada di persimpangan penting. Di satu sisi, permintaan terus tumbuh seiring meningkatnya kesadaran akan energi ramah lingkungan.
Namun di sisi lain, persaingan harga yang kian ketat membuat banyak produsen harus memutar otak agar tetap kompetitif tanpa mengorbankan kualitas.
Dalam situasi ini, Bos BYD akhirnya angkat bicara secara terbuka mengenai peran insentif pemerintah serta strategi perusahaan dalam menjaga harga mobil listrik tetap stabil di pasar.
Sebagai salah satu produsen kendaraan listrik terbesar di dunia, BYD menilai insentif bukanlah satu-satunya penentu kesuksesan mobil listrik.
Petinggi BYD menyebut bahwa subsidi dan keringanan pajak memang membantu mempercepat adopsi kendaraan listrik, terutama di tahap awal pengembangan pasar.
BACA JUGA:Siap Libas Medan Berat,Motor Trail Listrik 32 kW dengan Akselerasi Buas dan Top Speed 105 Km/Jam
BACA JUGA:Bawa Barang Lebih Aman, Ini 7 Gantungan Barang Andalan di Motor
Namun, ketergantungan berlebihan terhadap insentif justru berpotensi menciptakan distorsi harga dan membuat industri tidak sehat dalam jangka panjang.
Menurut Bos BYD, insentif seharusnya berfungsi sebagai pemantik, bukan penopang utama.
Ketika konsumen membeli mobil listrik hanya karena harga yang ditekan subsidi, maka loyalitas terhadap produk bisa melemah saat insentif tersebut dikurangi atau dihentikan.
Oleh karena itu, BYD menekankan pentingnya membangun daya saing dari sisi teknologi, efisiensi produksi, serta kualitas produk.
Dalam keterangannya, Bos BYD juga menyoroti fenomena perang harga yang belakangan marak terjadi di segmen kendaraan listrik.

BYD menilai insentif bukanlah satu-satunya penentu kesuksesan mobil listrik.--carmudi.com
Banyak produsen terjebak dalam strategi banting harga demi mengejar volume penjualan. Meski efektif dalam jangka pendek, langkah tersebut dinilai berisiko menurunkan nilai merek dan merusak struktur industri secara keseluruhan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: berbagai sumber
