Kurs Dolar AS Hari Ini 4 Mei 2026: Rupiah Stabil di Tengah Tekanan Global, BI Perbarui Level Acuan
Kurs dolar AS per 4 Mei 2026 menunjukkan rupiah stabil di tengah tekanan global. Bank Indonesia turut memperbarui level acuan terbaru.--freepik
PALTV.CO.ID- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 4 Mei 2026 menunjukkan pergerakan yang relatif stabil, meski masih berada dalam tekanan.
Dari beberapa sumber, berdasarkan data pasar, rupiah dibuka di kisaran Rp17.337 hingga Rp17.346 per dolar AS, mencerminkan kondisi pasar yang cenderung berhati-hati di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih.
Pergerakan rupiah hari ini masih melanjutkan tren pelemahan terbatas yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Tekanan terhadap mata uang Garuda dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, seperti penguatan dolar AS secara global, ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat, serta ketidakpastian geopolitik yang memicu aliran dana keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi lain, pelaku pasar domestik juga mencermati sejumlah indikator ekonomi dalam negeri. Meski fundamental ekonomi Indonesia dinilai cukup solid, tekanan eksternal tetap menjadi faktor dominan yang memengaruhi nilai tukar rupiah saat ini.
BACA JUGA:Samsung Resmi Rilis microSD T7 dan T9 di Indonesia, Hadirkan Penyimpanan Cepat!
Stabilitas yang terlihat pada perdagangan hari ini lebih mencerminkan sikap “wait and see” investor terhadap arah kebijakan global ke depan.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) telah memperbarui kurs referensi (JISDOR) sebagai acuan transaksi resmi. Berdasarkan data terbaru, BI menetapkan kurs jual sebesar Rp 17.464 per dolar AS, sementara untuk kurs beli: Rp 17.291 per dolar AS
Level kurs yang ditetapkan BI tersebut menunjukkan adanya penyesuaian dibandingkan hari-hari sebelumnya, sekaligus mencerminkan kondisi pasar valuta asing yang masih berada dalam tekanan.
Kurs referensi ini umumnya digunakan dalam transaksi resmi seperti pelaporan keuangan dan kegiatan perdagangan tertentu, sehingga menjadi indikator penting bagi pelaku usaha dan investor.
Analis menilai bahwa pergerakan rupiah ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter global, khususnya dari bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Jika suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama, maka potensi tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut.
Namun, intervensi aktif dari Bank Indonesia di pasar valas serta kebijakan stabilisasi yang konsisten diharapkan mampu menjaga volatilitas tetap terkendali.
BACA JUGA:Pengrajin Tape Singkong di Banyuasin Tetap Eksis di Era Kontemporer
Selain itu, faktor domestik seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta kinerja ekspor-impor juga akan menjadi penopang penting bagi nilai tukar rupiah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: berbagai sumber

