Sulitnya Warga Aceh Berhaji Sampai Tercatat di Kerajaan Ottoman.

Sulitnya Warga Aceh Berhaji Sampai Tercatat di Kerajaan Ottoman.

Warga Keturunan Turkey membantangkan bendera Turkey dan bendera Kesultanan Aceh yang keduanya hampir mirip--Antara.com

PALEMBANG, PALTV.CO.ID - Ibadah haji merupakan Ibadah rukun Islam ke lima bahkan diwajibkan bagi mereka yang memiliki kemampuan financial.

Namun pada 1872, umat muslim di Aceh sangat kesulitan untuk melaksanakan ibadah haji, padahal mereka mampu dan siap. Lantaran dilarang oleh Kerajaan Belanda kala itu

Taqiyuddin Muhammad, seorang peneliti Asia Tenggara yang fokus pada sejarah dan kebudayaan Islam Asia bahkan pernah menerjemahkan sebuah surat. Surat yang dikirim kesultanan Aceh saat itu pada 1289 H/1872 M bertajuk "Protes jemaah Haji Asal Aceh".

Kurang lebih, terjemahan surat tersebut sama dengan yang dikisahkan pada Sultan Abdul Hamid, di mana adanya pengaduan dari warga Aceh yang sangat ingin berhaji namun sangat dipersulit pemerintah Belanda. Hingga sempat ditayangkan dalam serial film.

Mendapatkan berita tersebut, Tentu membuat Sultan Abdul Hamid menjadi murka setelah menerima surat pengaduan tersebut. Selain melanggar hak hak asasi manusia, dan kebebasan beragama Sultan Abdul Hamid juga tidak suka Kerajaan Belanda yang suka mencampuri urusan ibadah umat muslim di Kesultanan Aceh. 

BACA JUGA:Terbaru, Cara Haji Tanpa Antri, Langsung Berangkat, Tidak Perlu Keluar Uang Banyak

Sultan kemudian langsung menghubungi Kedutaan Besar Belanda untuk langsung menyelesaikan masalah tersebut. Sultan Abdul Hamidpun ternyata memiliki dokumen rahasia kerajaan Belanda. Dengan dokumen tersebut, memaksa kerajaan Belanda yang tadinya melarang berubah memberikan subsidi pemberangkatan jemaah haji asal aceh melalui Kapal laut.

Sepanjang Kekhalifahan Turki Utsmani, Sultan Abdul Hamid II kalab itu mengalami beberapa sejarah penting, seperti perang dengan Rusia pada 1877. Dengan kepemimpinannya yang kharismatik dan religius kisah Sultan Abdul Hamid II sampai diangkat ke layar TV Turkey

Kesultanan Aceh sendiri memang memiliki hubungan diplomatik dengan Turki Utsmani sejak abad ke 16. Kesultanan Aceh bahkan beberapa kesempatan mengirim utusan ke Turki kala itu, untuk permintaan bantuan pasukan. Kesultanan Aceh mengangkut komoditas rempah dagang terutama lada untuk dipersembahkan kepada Kesultanan Utsmani.

Malah, ada sejumlah bukti jika Aceh pernah mengajukan diri menjadi Vasal atau Kesultanan di bawah perlindungan Turki, yang kala itu merupakan imperium terkuat di dunia.

"Malah ada komunikasi diplomatik dengan Turki Usmaini, termasuk Jawa, mungkin saja. Kalau Melayu ada buktinya banyak, saya miliki, khususnya Aceh," Ujar Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah

Terkait permohonan bala bantuan militer, Sultan Selim II menjawab permintaan bantuan dari Aceh. Turki kemudian mengirimkan instruktur, pasukan, bahkan senjata ke Aceh untuk melawan Portugis kala itu.

Pasukan Turki pertama kali tercatat pada 1537 dan 1538 membantu Aceh. Namun, mereka kemungkinan merupakan tentara bayaran, karena menerima imbalan sebanyak empat kapal lada.

Pasukan juga Turki juga terlihat dalam serangan Aceh ke Malaka pada 1547. Bantuan resmi pertama dari Turki yang diusahakan oleh utusan Aceh datang yakni pada 1564 kemudian tahun 1568 saat melawan Portugis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: berbagai sumber