PALEMBANG, PALTV.CO.ID– Kenaikan harga oli kendaraan bermotor yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mulai dikeluhkan pelaku usaha bengkel maupun konsumen. Harga oli yang naik hingga 40 persen dinilai membebani masyarakat karena biaya perawatan kendaraan menjadi semakin mahal. Rabu (03/06/26).
Salah satu pelaku usaha bengkel di jalan Palembang, Indra, mengatakan kenaikan harga mulai terjadi sejak April 2026 dan terus berlangsung hingga saat ini. Menurutnya, hampir seluruh merek oli mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan.
“Kalau kenaikan harga barang ini mulai terasa dari bulan April. Bulan Maret masih normal, tapi dari bulan April sampai sekarang terus mengalami kenaikan. Untuk oli yang paling signifikan, dari bulan Maret sampai bulan Juni kenaikannya sekitar 40 persen. Rata-rata hampir seluruh merek oli mengalami kenaikan di kisaran tersebut,” ujar Indra.
Ia menjelaskan, saat ini harga oli termurah berada di kisaran Rp40 ribuan per botol, sementara untuk produk premium sudah menembus lebih dari Rp100 ribu per botol.
BACA JUGA:Hadapi Musim Kemarau, Polres Muba Matangkan Kesiapan Penanggulangan Karhutla
“Kalau sekarang yang paling murah itu sekitar Rp40 ribuan per botol. Sedangkan yang paling mahal sudah lebih dari Rp100 ribu per botol,” katanya.
Menurut Indra, salah satu produk yang mengalami kenaikan paling tinggi adalah oli merek Shell. Dalam kurun waktu tiga bulan, harga jual produk tersebut meningkat cukup tajam.
“Yang paling terdampak sampai sekarang itu oli Shell. Kalau bulan Maret masih dijual sekitar Rp45 ribu per botol, sekarang sudah mencapai Rp75 ribu per botol,” ungkapnya.
Indra, pelaku usaha bengkel--PALTV
Kenaikan harga tersebut berdampak langsung terhadap jumlah konsumen yang datang ke bengkel. Banyak pelanggan yang terkejut dengan harga baru sehingga memilih menunda penggantian oli kendaraan mereka.
“Dari sisi konsumen pasti ada penurunan. Banyak yang terkejut dengan harga sekarang. Omset juga ikut turun. Dari April sampai Juni ini penurunannya sekitar 30 sampai 40 persen,” jelas Indra.
Tidak hanya oli, sejumlah kebutuhan kendaraan lainnya juga ikut mengalami kenaikan harga meski tidak sebesar oli.
“Suku cadang juga naik sekitar 10 sampai 15 persen. Kemudian ban luar naik sekitar 20 persen. Tapi kenaikannya memang tidak separah oli,” tambahnya.
Indra menduga kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh menguatnya dolar Amerika Serikat, dampak perang global, serta berbagai faktor ekonomi lainnya.
“Dolar sudah pasti berpengaruh. Kemudian mungkin ada efek perang dan beberapa kebijakan yang juga berdampak terhadap harga barang. Harapan kami tentu keadaan bisa membaik. Kalau harga-harga lebih terjangkau, perputaran ekonomi juga akan lebih baik,” katanya.