Kurs Dolar AS Menguat Tipis di Level Rp17.000 pada 9 April 2026, Rupiah Masih Tertekan

Kamis 09-04-2026,11:01 WIB
Reporter : Angga
Editor : Abidin Riwanto

PALTV.CO.ID- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis, 9 April 2026, tercatat masih berada di kisaran psikologis Rp17.000 per USD.

Dari beberapa sumber, berdasarkan data pergerakan pasar, kurs dolar hari ini bergerak di rentang Rp16.963 hingga Rp17.009 per USD, menunjukkan bahwa rupiah masih mengalami tekanan meski cenderung stabil dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

Pergerakan ini melanjutkan tren yang telah terjadi sejak akhir Maret 2026, di mana rupiah perlahan melemah akibat kombinasi faktor global dan domestik.

Penguatan dolar AS secara global menjadi salah satu penyebab utama, seiring ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan oleh bank sentral Amerika Serikat.

 BACA JUGA:Benchmark Gaming Nokia X90 Pro Max 2026: Seberapa Tinggi Skor Performa yang Dihasilkan?

Di sisi lain, data acuan resmi dari Bank Indonesia juga menunjukkan posisi rupiah yang masih berada dalam tekanan. Berdasarkan pembaruan terbaru, Bank Indonesia menetapkan kurs dengan rincian sebagai berikut:

Kurs jual: Rp17.094 per USD

Kurs beli: Rp16.923 per USD

Selisih antara kurs jual dan beli tersebut mencerminkan dinamika permintaan dan penawaran valuta asing di pasar domestik.

Kurs jual yang lebih tinggi menunjukkan harga yang harus dibayar masyarakat atau pelaku usaha untuk mendapatkan dolar AS, sementara kurs beli merupakan harga yang diterima saat menukarkan dolar ke rupiah.

 
penyebab rupiah tertekan saat dolar menguat 2026--freepik

Stabilnya pergerakan di kisaran Rp17.000 ini menandakan bahwa pasar masih dalam fase konsolidasi.

Meski tidak terjadi pelemahan tajam, tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. Beberapa analis menilai bahwa ketidakpastian ekonomi global, termasuk kondisi geopolitik dan arah kebijakan moneter negara maju, masih menjadi faktor utama yang memengaruhi nilai tukar.

 

Selain faktor eksternal, kondisi dalam negeri juga turut berperan. Kebutuhan impor yang meningkat, terutama untuk energi dan bahan baku industri, ikut mendorong permintaan dolar AS.

Kategori :