Konsumsi BBM Super Irit, Kenapa Motor Ini Tak Laku?

Rabu 11-03-2026,16:58 WIB
Reporter : Tiara
Editor : Abidin Riwanto

Banyak pembeli kini mengharapkan motor yang dilengkapi dengan teknologi modern seperti panel instrumen digital penuh, lampu LED, sistem pengereman ABS, serta konektivitas smartphone.

Motor dengan fitur sederhana sering kali dianggap kurang menarik, terutama ketika dibandingkan dengan model lain yang menawarkan teknologi lebih canggih. 

Akibatnya, walaupun motor tersebut sangat hemat bahan bakar, minat konsumen tetap rendah.

Citra sebagai “Motor Kerja”

Faktor citra juga memiliki pengaruh besar dalam menentukan popularitas sebuah motor. 

Beberapa model motor irit sering kali mendapat label sebagai kendaraan operasional atau “motor kerja”.

Motor yang sering digunakan oleh pengemudi ojek, kurir, atau kendaraan dinas kantor terkadang dianggap kurang prestisius oleh sebagian konsumen pribadi. 

Citra tersebut membuat sebagian orang lebih memilih motor dengan tampilan lebih stylish meskipun konsumsi BBM-nya tidak sehemat model lain.

Dalam konteks ini, gaya dan identitas sering kali lebih diprioritaskan daripada efisiensi bahan bakar semata.

Faktor Nilai Jual Kembali

Di pasar otomotif Indonesia, nilai jual kembali menjadi pertimbangan yang sangat penting. 

Konsumen tidak hanya memikirkan harga beli, tetapi juga memperhitungkan harga jual kendaraan tersebut beberapa tahun ke depan.

Motor yang kurang populer sejak awal biasanya memiliki nilai jual kembali yang lebih rendah. 

Hal ini membuat calon pembeli ragu untuk memilihnya karena khawatir akan mengalami kerugian saat menjual motor tersebut di kemudian hari.

Sebaliknya, model yang sudah terbukti laris di pasar cenderung memiliki harga bekas yang stabil. 

Motor seperti Honda BeAT, Honda Scoopy, Yamaha Mio M3, dan Suzuki Nex II berhasil menyeimbangkan antara efisiensi bahan bakar dan popularitas di pasar.

Kategori :