Meta Siapkan Kacamata AI dengan Pengenalan Wajah, Kebijakan Baru Ini Bikin Heboh

Selasa 17-02-2026,16:25 WIB
Reporter : Adie
Editor : Abidin Riwanto

PALTV.CO.ID- Langkah baru tengah disiapkan oleh raksasa teknologi Meta. Perusahaan yang selama ini dikenal sebagai induk dari Facebook, Instagram, dan WhatsApp itu dilaporkan sedang mempertimbangkan peningkatan besar pada kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI). 

Salah satu fitur yang disebut-sebut akan hadir adalah teknologi pengenalan wajah, sebuah inovasi yang langsung memicu perdebatan luas terkait privasi dan keamanan data.

Laporan sejumlah media teknologi internasional menyebutkan bahwa Meta sedang mengevaluasi kembali kebijakan internalnya terkait penggunaan teknologi pengenalan wajah di perangkat wearable. 

Jika rencana ini benar-benar diwujudkan, kacamata AI milik Meta berpotensi mampu mengenali identitas seseorang secara otomatis hanya dengan melihat wajahnya. 

BACA JUGA:Wisata Olahraga Ditargetkan Dongkrak PAD Palembang 2026

Teknologi ini akan dipadukan dengan kemampuan AI yang sudah ada, seperti asisten suara, penerjemah real-time, hingga pengambilan gambar dan video secara instan.

Sejauh ini, Meta telah bekerja sama dengan produsen kacamata ternama Ray-Ban untuk menghadirkan kacamata pintar yang berfokus pada fitur kamera dan interaksi AI sederhana. Produk tersebut memungkinkan pengguna mengambil foto, merekam video, mendengarkan musik, hingga berkomunikasi dengan asisten AI. Namun, penambahan fitur pengenalan wajah akan membawa perangkat ini ke level yang jauh lebih canggih sekaligus kontroversial.

Sumber internal yang dikutip dalam laporan tersebut menyebutkan bahwa pengembangan fitur pengenalan wajah ini masih berada pada tahap eksplorasi. Meta dikabarkan sedang meninjau aspek teknis, hukum, dan etika sebelum memutuskan apakah teknologi tersebut akan diaktifkan secara luas. Perusahaan juga mempertimbangkan perubahan kebijakan privasi untuk menyesuaikan dengan potensi penggunaan teknologi ini di ruang publik.

Dari sisi teknologi, pengenalan wajah pada kacamata AI berpotensi membuka berbagai skenario penggunaan. Misalnya, pengguna dapat langsung mengetahui identitas rekan kerja saat menghadiri acara besar, mengingat nama orang yang baru ditemui, atau mendapatkan informasi tambahan tentang seseorang melalui integrasi data digital. Dalam konteks profesional, fitur ini bisa membantu networking dan produktivitas.

Namun di sisi lain, kekhawatiran mengenai pelanggaran privasi menjadi sorotan utama. Teknologi pengenalan wajah selama ini sudah menuai kritik ketika digunakan di ruang publik, terutama karena dianggap dapat mengawasi individu tanpa persetujuan.

Jika fitur serupa disematkan pada kacamata yang dapat digunakan siapa saja, risiko penyalahgunaan dinilai semakin besar. Organisasi pemerhati privasi menilai bahwa teknologi ini bisa mengaburkan batas antara ruang publik dan pengawasan personal.

Meta sendiri bukan pemain baru dalam teknologi pengenalan wajah. Perusahaan ini pernah menggunakan sistem serupa di platform media sosialnya untuk menandai wajah pengguna dalam foto.

Namun, beberapa tahun lalu Meta menghentikan penggunaan fitur tersebut secara luas setelah mendapat tekanan dari regulator dan kelompok advokasi privasi. Oleh karena itu, rencana menghadirkan kembali teknologi pengenalan wajah dalam bentuk baru dianggap sebagai perubahan kebijakan yang signifikan.

Regulator di berbagai negara kemungkinan akan mengawasi ketat langkah ini. Di Eropa, misalnya, aturan perlindungan data pribadi seperti GDPR memiliki ketentuan ketat terkait biometrik dan pengenalan wajah. Sementara di Amerika Serikat dan beberapa negara Asia, diskusi tentang regulasi teknologi AI dan privasi juga terus berkembang.

Jika Meta benar-benar meluncurkan kacamata AI dengan pengenalan wajah, perusahaan harus memastikan kepatuhan terhadap berbagai aturan yang berbeda di setiap wilayah.

Kategori :