Keuntungan belum terealisasi bahkan belum mencapai 11%. Sayang sekali bukan emas,” tulis Schiff.
BACA JUGA:Ini Sosok Pengacara Asal Palembang Misnan Hartono, Dibalik Kasus Jambret Viral Di Sleman
BACA JUGA:Tak Disangka! Pria yang Dikira Pembeli Sayur Ini Ternyata Penjambret
Akumulasi Tetap Jalan, Tapi Risiko Kian Membesar
Ironisnya, penurunan saham ini justru terjadi di tengah akumulasi Bitcoin yang semakin agresif. Pada 26 Januari, Strategy mengumumkan pembelian terbaru senilai US$264,1 juta, dengan harga rata-rata US$90.061 per BTC.
Ini menjadi pembelian besar keempat sepanjang Januari, membawa total kepemilikan perusahaan menjadi 712.647 BTC, dengan nilai sekitar US$59,1 miliar.
Namun, di balik angka fantastis itu, analis mulai menyoroti risiko yang semakin berat.
Nilai NAV per saham turun di bawah 1,0x, akumulasi BTC per saham makin menipis, dan potensi dilusi pemegang saham meningkat.
Tanpa kembalinya premi ekuitas seperti sebelumnya, strategi akumulasi lanjutan bisa justru menekan nilai saham lebih dalam.
BACA JUGA:BPOM Palembang Tingkatkan Pengawasan Produk Pangan Berbahaya
BACA JUGA:Motorola G17 Melengkapi Lini Seri G dengan Baterai Besar dan Kamera 50 MP
BitMine Perbesar Taruhan Ethereum, Saham Justru Terpukul
Nasib serupa dialami BitMine (BMNR). Saham perusahaan ini ditutup turun 9,89% ke level US$26,70, terendah sejak November 2025.
Padahal, pekan ini BitMine baru saja mencatatkan pembelian Ethereum terbesar sepanjang 2026, dengan mengakuisisi 40.000 ETH dalam satu transaksi.
Total kepemilikan mereka kini mencapai sekitar 4,24 juta ETH, senilai kurang lebih US$11,68 miliar.
Angka ini setara dengan 3,5% dari total suplai Ethereum global. Lebih dari setengah aset tersebut juga berada dalam skema staking, menghasilkan imbal hasil pasif.