Penerbit Bukan Solusi Mutlak
BACA JUGA:Cemari Lingkungan, Bupati Stop Operasional PTASL
BACA JUGA:Gurih Pahit Tapi Asyik, Rasakan Keripik Pare Camilan Khas OKU Timur yang Unik dan Menyehatkan
Dalam teori, publisher seharusnya membantu. Mereka menyediakan dana, jaringan, dan visibilitas. Tapi kenyataannya, terlalu banyak kekuasaan justru membuat para developer kehilangan kontrol.
Bahkan ada kasus penerbit yang menyerang kompetitor dari pengembangnya sendiri demi menjaga dominasi pasar.
Dan ya, efeknya juga kita rasakan sebagai pemain. Kita tetap mendapat game bagus, tapi banyak juga yang terasa steril—seolah dibuat dengan template demi aman dari risiko.
Solusi: Kemandirian dan Distribusi Alternatif
BACA JUGA:Rendi Lapor Polisi Usai Dibacok Tetangga Sendiri, Pelaku Terduga Kurir Sabu!
BACA JUGA:Gurih Pahit Tapi Asyik, Rasakan Keripik Pare Camilan Khas OKU Timur yang Unik dan Menyehatkan
Untungnya, kita mulai melihat arah yang lebih sehat: game seperti Schedule One atau Valheim sukses tanpa bantuan publisher besar.
Bahkan banyak yang nyaris tanpa iklan. Mereka hanya mengandalkan Steam, harga wajar, kualitas bagus, dan kekuatan dari word of mouth.
Platform seperti Steam sangat berperan dalam mendukung developer kecil untuk menemukan pijakan. Banyak game hebat tidak akan pernah muncul tanpa mereka. Ini bukti bahwa industri bisa berjalan tanpa ketergantungan pada publisher besar.
Sudah saatnya industri game mendukung lebih banyak pengembang mandiri. Kreativitas tidak bisa dikurung dalam spreadsheet atau model bisnis kaku.
BACA JUGA:Pemegang Saham BBRI Cuan Besar! Dividen Rp31,4 Triliun Cair Hari Ini
BACA JUGA:Wajib Tahu! Pentingnya Baby Car Seat untuk Keselamatan Si Kecil di Mobil
Kita butuh lebih banyak game yang jujur, berani, dan punya identitas. Dan itu hanya bisa terjadi jika kita memberi ruang bagi mereka yang benar-benar mencintai proses mencipta—bukan sekadar menghitung margin keuntungan.