Bukit Asam PT. BA

Kurs Dolar AS Hari Ini 24 April 2026: Rupiah Masih Tertekan, BI Catat Kenaikan Tipis

Kurs Dolar AS Hari Ini 24 April 2026: Rupiah Masih Tertekan, BI Catat Kenaikan Tipis

Kurs Dolar AS pada hari Jumat 24 April 2026 menunjukkan Rupiah masih tertekan, BI mencatat kenaikan tipis.--freepik.com/@8photo

PALTV.CO.ID - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) kembali menunjukkan tekanan pada perdagangan akhir pekan pada hari Jumat, 24 April 2026. 

Berdasarkan data terbaru dari Bank Indonesia, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat adanya kenaikan nilai Dolar dibandingkan hari sebelumnya. 

Bank Indonesia melaporkan bahwa kurs jual Dolar AS berada di level Rp 17.394 per USD, sementara kurs beli tercatat sebesar Rp 17.221 per USD.

Angka ini menunjukkan bahwa Rupiah masih bergerak dalam tren pelemahan tipis setelah sebelumnya berada di kisaran Rp 17.200-an.

BACA JUGA:Moto Pad 2026 untuk Anak: Aman Digunakan?

BACA JUGA:Terungkap! 3 Tahanan Kejari OKU Kabur Setelah Buka Borgol dengan Kawat

Pergerakan ini melanjutkan tren dalam beberapa hari terakhir, di mana mata uang Garuda cenderung mengalami tekanan akibat sentimen global. 

Pada perdagangan 23 April 2026, kurs Dolar AS masih berada di level yang lebih rendah, yakni sekitar Rp 17.264 (jual) dan Rp 17.093 (beli).

Kenaikan yang terjadi hari ini menandakan adanya peningkatan permintaan terhadap Dolar AS, baik dari pelaku pasar domestik maupun global. 

Sejumlah analis menilai bahwa penguatan Dolar AS masih dipengaruhi oleh kebijakan moneter Amerika Serikat yang cenderung ketat.

BACA JUGA:Gebrakan Besar! Aparat Gabungan Sikat 56 Sumur Minyak Ilegal di Muba, Puluhan Pekerja Diamankan

BACA JUGA:PLN Nyalakan Listrik Wisata Danau Biru di Hari Kartini, Dorong Pariwisata dan Pemberdayaan Perempuan di Ogan


Penguatan Dolar AS masih dipengaruhi oleh kebijakan moneter Amerika Serikat yang cenderung ketat.--freepik.com/@pvproductions

Bank sentral AS atau The Federal Reserve masih mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi, sehingga membuat aset berbasis Dolar lebih menarik bagi investor global.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: berbagai sumber

Berita Terkait