Bukit Asam PT. BA

Kurs Dolar AS Hari Ini 1 Februari 2026 Bergerak di Kisaran Rp16.700–Rp16.800, Rupiah Masih Tertekan

Kurs Dolar AS Hari Ini 1 Februari 2026 Bergerak di Kisaran Rp16.700–Rp16.800, Rupiah Masih Tertekan

Kurs dolar AS hari ini, 1 Februari 2026, bergerak di kisaran Rp16.700–Rp16.800.--foto: chat gpt

PALTV.CO.ID- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada Sabtu, 1 Februari 2026, tercatat masih bergerak dalam kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS.

Pergerakan ini mencerminkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlanjut, meskipun volatilitas relatif terbatas dibandingkan pekan sebelumnya.

Dari beberapa sumber, berdasarkan pantauan pasar dan estimasi nilai tukar di sejumlah platform keuangan, kurs dolar AS hari ini berada di sekitar Rp16.737 per USD.

Angka tersebut menunjukkan bahwa rupiah masih berada pada fase konsolidasi, belum menunjukkan penguatan signifikan namun juga tidak mengalami pelemahan tajam.

 BACA JUGA:Perpaduan 3 Negara! Kawasaki W175 Street 2026 Datang dengan Sentuhan Baru yang Tak Terduga

Perlu dicatat, karena 1 Februari 2026 jatuh pada akhir pekan, Bank Indonesia belum merilis kurs referensi JISDOR terbaru.

Oleh sebab itu, pergerakan nilai tukar hari ini lebih banyak mengacu pada harga penutupan perdagangan terakhir, estimasi pasar spot, serta kurs yang ditampilkan oleh bank dan pelaku pasar valuta asing.

Sentimen Global Masih Membayangi Rupiah

Tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari berbagai faktor global yang hingga kini masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Salah satu faktor utama adalah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang masih cenderung ketat.

Ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama membuat dolar AS tetap diminati sebagai aset aman (safe haven).

 
kurs dolar AS hari ini 1 Februari 2026--freepik

Selain itu, ketidakpastian kondisi ekonomi global, mulai dari perlambatan ekonomi di beberapa negara besar hingga tensi geopolitik, turut mendorong investor global untuk menempatkan dana pada aset berdenominasi dolar AS.

Kondisi ini secara tidak langsung memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: berbagai sumber