6.500 Hektar Sawah OKI Terendam Banjir, Ancaman Serius Surplus Padi dan Nasib Petani
Sebanyak 6.500 hektar lahan padi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, terendam banjir sejak 10 Januari 2026. --Gambar : Ilustrasi Chatgpt Image - Muhadi
KAYUAGUNG, PALTV.CO.ID – Sebanyak 6.500 hektar lahan padi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, terendam banjir sejak 10 Januari 2026.
Kondisi ini menyebabkan ribuan petani mengalami kerugian karena tanaman padi mengalami gagal panen (fuso) dan berpotensi mengancam surplus padi di wilayah tersebut.
Banjir melanda sejumlah kecamatan di OKI akibat intensitas hujan tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Hingga Selasa (13/1/2026), genangan air masih merendam area persawahan di beberapa wilayah.
Kepala UPTD Balai Pelaksana Penyuluhan Pertanian (BPPP) Kabupaten OKI, Herman, mengatakan bahwa berdasarkan data sementara, luas lahan padi yang terdampak banjir mencapai 6.551,5 hektar.
BACA JUGA:Rahasia Sukses Kelola Uang Sekolah Anak Tanpa Pusing
BACA JUGA:Ayo Daftar Umrah Awal Tahun Bersama Holiday Angkasa Wisata, Harga Spesial Musim 1447 H

Kondisi ini menyebabkan ribuan petani mengalami kerugian karena tanaman padi mengalami gagal panen (fuso) dan berpotensi mengancam surplus padi di wilayah tersebut.--Gambar : Ilustrasi Chatgpt image - Muhadi
“Sejak 10 Januari hingga hari ini, total lahan padi yang terendam banjir dan mengalami fuso tercatat seluas 6.551,5 hektar,” ujar Herman.
Ia menjelaskan, lahan padi yang terendam banjir tersebar di beberapa kecamatan, di antaranya Air Sugihan, Jejawi, Lempuing, Lempuing Jaya, dan SP Padang. Dari seluruh wilayah terdampak, Kecamatan Jejawi menjadi daerah dengan luasan terparah, yakni mencapai 2.548 hektar.
Herman menambahkan, seluruh data lahan pertanian yang terdampak banjir tersebut telah dilaporkan secara online ke Kementerian Pertanian Republik Indonesia sebagai bahan evaluasi dan tindak lanjut.
Untuk meringankan beban petani, Balai Pelaksana Penyuluhan Pertanian OKI telah mengambil sejumlah langkah, antara lain melakukan pendataan dan identifikasi lahan terdampak, menyalurkan bantuan benih, beras, serta pangan siap masak kepada petani yang terdampak banjir.
BACA JUGA:Tingkatkan Pelindungan Pekerja Melalui Forum Kepatuhan
BACA JUGA:JPU Muba Tegas Tolak Eksepsi Haji Abdul Halim, Minta Sidang Korupsi Langsung Masuk Pokok Perkara
Selain itu, petugas pertanian juga melakukan identifikasi penyebab banjir. Menurut Herman, banjir dipicu oleh cuaca ekstrem dan anomali iklim, di mana periode Desember hingga Februari merupakan bulan basah dengan curah hujan tinggi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: paltv.co.id
