Jika hal seperti ini sering terjadi, pelanggan lama dapat merasa bahwa menjadi pembeli lebih awal justru tidak memberikan keuntungan. Karena itu, waktu dan mekanisme promosi perlu dipertimbangkan agar tidak mengabaikan pelanggan yang sudah lebih dulu membeli.
4. Pembeli Promo Belum Tentu Menjadi Pelanggan Setia
Jumlah transaksi yang meningkat selama masa diskon tidak selalu berarti jumlah pelanggan loyal ikut bertambah. Konsumen yang sangat sensitif terhadap harga bisa saja berpindah ke toko lain ketika menemukan penawaran yang lebih murah.
Bagi bisnis, kondisi tersebut perlu diperhitungkan karena mendapatkan pelanggan baru biasanya membutuhkan biaya, seperti iklan, voucher, potongan harga, maupun subsidi pengiriman. Jika pelanggan hanya membeli sekali ketika promo berlangsung, biaya pemasaran tersebut belum tentu menghasilkan hubungan jangka panjang.
BACA JUGA:Keyboard Komputer Ada Lampu, Pilihan Menarik untuk Menunjang Aktivitas dan Gaming
5. Harga Normal Bisa Kehilangan Nilainya
Promosi yang terlalu sering juga dapat membuat konsumen memiliki patokan harga baru. Misalnya, produk yang tercantum Rp200 ribu hampir setiap minggu dijual Rp100 ribu. Lama-kelamaan, pelanggan mungkin menganggap Rp100 ribu sebagai harga sebenarnya.
Akibatnya, ketika produk kembali ke harga Rp200 ribu, konsumen dapat merasa harga tersebut terlalu mahal. Bisnis pun menjadi lebih sulit menjual tanpa memberikan potongan.
Pada akhirnya, diskon bukanlah strategi yang harus dihindari. Persoalannya terletak pada frekuensi, besaran, waktu, dan tujuan promo. Bisnis perlu memastikan bahwa promosi tetap memberikan nilai bagi pelanggan tanpa menghilangkan daya tarik harga normal.