Dalam kondisi seperti ini, banyak orang mulai mencari aset yang nilainya mampu bertahan terhadap inflasi.
Emas sering dipilih karena dianggap memiliki kemampuan menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang.
Menariknya, harga emas biasanya mulai naik bahkan sebelum inflasi benar-benar tinggi.
Hal ini terjadi karena pasar bergerak berdasarkan ekspektasi, ketika investor memperkirakan inflasi akan meningkat, permintaan emas pun mulai bertambah.
3. Suku Bunga Sangat Berpengaruh pada Harga Emas
Pergerakan suku bunga memiliki hubungan erat dengan emas.
Ketika suku bunga tinggi, instrumen seperti deposito atau obligasi menjadi lebih menarik karena menawarkan imbal hasil yang besar.
Sebaliknya, saat suku bunga rendah, keuntungan dari instrumen tersebut ikut menurun. Investor kemudian mulai mencari alternatif investasi lain, termasuk emas.
Karena emas tidak memberikan bunga atau dividen, logam mulia ini biasanya lebih diminati ketika suku bunga rendah.
Itulah sebabnya kebijakan bank sentral seperti The Fed di Amerika Serikat sering menjadi perhatian utama para pelaku pasar emas.
Keputusan kenaikan atau penurunan suku bunga bisa langsung memicu perubahan harga emas di seluruh dunia.
4. Nilai Dolar AS dan Emas Saling Berkaitan
Harga emas internasional diperdagangkan menggunakan dolar Amerika Serikat.
Karena itu, pergerakan dolar sangat memengaruhi harga emas.
Ketika dolar melemah, harga emas menjadi lebih murah bagi investor dari negara lain.
Akibatnya, permintaan meningkat dan harga emas cenderung naik.