BACA JUGA:Jemaah Ziarah Kubro Gelar Haul di Makam Al Habib Abdurrahman Assegaf
BACA JUGA:iPhone 17 Pro vs iPhone Bekas: Pilih Baru atau Second?
Oleh karena itu, penguatan manajemen risiko menjadi kunci utama. Perusahaan pembiayaan perlu menerapkan parameter penilaian yang lebih ketat, mulai dari sistem credit scoring, survei lapangan, hingga verifikasi pendapatan dan latar belakang calon debitur.
Langkah ini penting untuk mencegah peningkatan kredit bermasalah serta mengantisipasi potensi penyalahgunaan, termasuk modus penipuan.
Sejumlah kalangan menilai kebijakan DP 0 persen lebih realistis diterapkan pada segmen tertentu. Untuk kendaraan roda dua, skema ini dinilai lebih memungkinkan karena nilai pembiayaan relatif kecil dan cicilan masih terjangkau.
Tanpa keharusan membayar uang muka sebesar 20–25 persen dari harga kendaraan, --chatgpt image
Sebaliknya, untuk kendaraan roda empat, DP 0 persen berisiko membuat cicilan bulanan menjadi terlalu berat bagi konsumen.
Ada pula pandangan bahwa kebijakan ini sebaiknya diarahkan ke pembiayaan kendaraan niaga dan alat berat.
BACA JUGA:iPhone 17 Pro vs Vivo X200 Pro: Siapa Unggul dalam Zoom Kamera?
BACA JUGA:iPhone 17 Pro vs Samsung S25+: Beda Harga, Beda Kelas?
Sektor tersebut dinilai memiliki dampak ekonomi yang lebih langsung karena berkaitan dengan aktivitas produksi, logistik, dan distribusi barang. Dengan pembiayaan yang lebih longgar, industri kendaraan niaga domestik diharapkan kembali bergairah.
Pada akhirnya, kebijakan DP 0 persen bukan sekadar soal kemudahan kredit, tetapi juga soal keseimbangan antara stimulus ekonomi dan pengelolaan risiko.
Tanpa seleksi debitur yang cermat dan kesadaran masyarakat dalam mengambil keputusan finansial, kebijakan ini berpotensi menimbulkan masalah baru. Kolaborasi antara regulator, pelaku industri, dan konsumen menjadi kunci agar kebijakan ini benar-benar memberi manfaat bagi perekonomian nasional.