BACA JUGA:Sertifikasi Halal 2026 Jadi Penopang Daya Saing Ekonomi UMKM
Pergerakan rupiah menunjukkan kecenderungan menguat tipis terhadap dolar AS, yang ditandai dengan beberapa indikator pasar.
Rupiah meningkat sekitar 0,08% dibandingkan penutupan sebelumnya, mencerminkan sentimen pasar yang relatif positif sepanjang sesi perdagangan.
Kurs JISDOR Bank Indonesia acuan resmi harian juga menunjukkan fluktuasi, namun tetap berada di level yang secara umum stabil di sekitar kisaran Rp16.800 per USD.
Penguatan ini dinilai sebagian dipengaruhi oleh sentimen global yang relatif kondusif, di mana beberapa investor melihat aset berdenominasi negara berkembang seperti rupiah sebagai pilihan diversifikasi di tengah dinamika pasar keuangan internasional.
BACA JUGA:Perak Tembus US$100 per Ounce! Tapi Kenapa Banyak Orang Gagal Menjualnya?
BACA JUGA:Lupakan Versi Ultra, Poco F8 Pro Ternyata Gila!
Faktor Global dan Kebijakan Moneter
Sentimen global tetap menjadi salah satu penentu arah pergerakan nilai tukar.
Menjelang keputusan kebijakan moneter penting dari The Federal Reserve (The Fed) AS, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dalam mengambil posisi besar di pasar mata uang.
Bank Indonesia (kurs jual–beli) mencatat nilai tukar USD sekitar Rp16.922,19 (jual) dan Rp16.753,81 (beli)--Freepik.com
Analis pasar menyebut bahwa keputusan yang diambil oleh bank sentral besar, terutama terkait suku bunga, berpengaruh signifikan terhadap kekuatan dolar AS.
Kebijakan moneter AS yang cenderung ketat bisa mendorong dolar menguat, yang pada gilirannya memberikan tekanan pada mata uang emerging seperti rupiah.
BACA JUGA:Oppo Reno 15 Pro Max Mirip Banget iPhone
BACA JUGA:Yamaha Fazzio Hybrid Tampil Lebih Segar, Warna dan Grafis Baru Bidik Gen Z
Bank Indonesia (BI) terus memantau pergerakan nilai tukar sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas makroekonomi, terutama mengingat posisi strategis rupiah dalam perdagangan dan investasi internasional.