Di Palembang, mie celor biasanya dinikmati sebagai menu sarapan. Kedai-kedai legendaris di kawasan 26 Ilir atau daerah lainnya seringkali sudah dipadati pelanggan sejak pukul enam pagi.
Kehangatan kuahnya yang gurih sangat cocok dipadukan dengan udara pagi, memberikan kenyamanan tersendiri bagi siapa saja yang menyantapnya. Bagi mereka yang pertama kali mencoba, sensasi rasa gurih yang dominan mungkin terasa unik.
kuliner khas Palembang mie celor--Foto: YouTube@domobramantyo
Namun, setelah beberapa suapan, kompleksitas rasa dari udang dan rempah akan mulai terasa seimbang. Penambahan tauge yang hanya dicelup sebentar memberikan sensasi "kriuk" yang menyeimbangkan kelembutan mi yang sudah direbus matang.
Objektivitas dalam rasa memang sulit diperdebatkan, namun konsistensi mie celor dalam menjaga resep tradisionalnya membuat hidangan ini tetap eksis di tengah gempuran kuliner modern.
Bahan-bahan lokal seperti udang sungai dan santan kelapa segar tetap menjadi kunci utama yang tidak bisa digantikan oleh bahan instan manapun.
Keberadaan mie celor juga mencerminkan kekayaan sumber daya alam Sumatera Selatan yang kaya akan hasil perairan. Penggunaan udang sebagai bahan utama menunjukkan betapa kreatifnya masyarakat lokal dalam mengolah hasil alam menjadi hidangan kelas atas yang bisa dinikmati oleh semua kalangan, mulai dari pedagang pasar hingga pejabat daerah.