Perhiasan dengan desain tradisional tersebut umumnya dibeli di toko-toko emas lokal yang sudah lama beroperasi di Palembang.
Toko-toko ini menjadi rujukan masyarakat karena kepercayaan yang telah terbangun selama bertahun-tahun, serta sistem jual beli yang transparan berdasarkan berat suku dan kadar emas.
Secara historis, masyarakat Palembang telah lama menjadikan emas sebagai bentuk simpanan kekayaan.--ig@palembangsekilasinfo
Dalam beberapa tahun terakhir, tren perhiasan emas di Palembang mulai menunjukkan pergeseran.
BACA JUGA:3 Oknum Petugas Perhubungan Diduga Pungli Dimintai Klarifikasi
BACA JUGA:Brimob Polda Sumsel dan Polres OKU Timur Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Belitang III
Salah satu faktor utamanya adalah kenaikan harga emas kuning yang cukup signifikan.
Kondisi ini mendorong sebagian masyarakat untuk mencari alternatif perhiasan yang tetap terlihat mewah, tetapi lebih menyesuaikan dengan kebutuhan dan selera masa kini.
Perhiasan emas putih pun semakin populer di kalangan warga Palembang, terutama generasi muda.
Emas putih dianggap memiliki tampilan yang modern, elegan, dan cocok digunakan dalam berbagai kesempatan, baik formal maupun kasual.
Selain faktor estetika, sebagian orang memilih emas putih karena harganya dinilai lebih terjangkau atau sekadar mengikuti tren mode global.
Selain itu, tren perhiasan internasional seperti gaya stacking juga mulai diminati.
BACA JUGA:3 Oknum Petugas Perhubungan Diduga Pungli Dimintai Klarifikasi
BACA JUGA:Warga Sanga Desa Digegerkan Temuan Mayat Tanpa Identitas di Sungai Musi
Stacking merujuk pada cara mengenakan beberapa cincin atau gelang secara bersamaan untuk menciptakan tampilan yang lebih dinamis dan personal.
Gaya ini memberikan kebebasan bagi pemakainya untuk berkreasi, memadukan berbagai desain, dan menyesuaikannya dengan suasana atau busana yang dikenakan.