Jangan Langsung Dibuang ke Laci! Uang Receh Bisa Jadi Dana Darurat Tak Terduga
Tumpukan uang receh berbagai pecahan yang dikumpulkan sebagai tabungan harian.--Foto : CHATgpt
PALEMBANG, PLATV.CO.ID - Uang receh dengan nominal kecil seperti Rp100, Rp200, Rp500, hingga Rp1.000 sering kali dianggap tidak terlalu berarti dan dibiarkan menumpuk di berbagai tempat, mulai dari laci, celengan, dompet, hingga dashboard kendaraan.
Padahal, jika dikumpulkan secara rutin dan konsisten, uang logam tersebut dapat menjadi tabungan yang cukup bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan di masa mendatang.
Kebiasaan menyisihkan uang receh setiap hari masih dinilai relevan, terutama bagi masyarakat yang masih sering melakukan transaksi tunai. Sejumlah aktivitas sehari-hari, seperti pembayaran parkir, belanja di pasar tradisional, atau membeli kebutuhan dari pedagang keliling, masih banyak menggunakan uang tunai sehingga menghasilkan kembalian dalam bentuk uang logam.
Meski nominalnya kecil, akumulasi uang receh dalam jangka waktu tertentu dapat memberikan hasil yang cukup besar. Sebagai contoh, jika seseorang menyisihkan uang receh senilai Rp2.000 setiap hari, dalam satu bulan jumlahnya dapat mencapai sekitar Rp60 ribu. Apabila dilakukan secara konsisten selama satu tahun, nilai tabungan tersebut bisa mencapai lebih dari Rp700 ribu.
BACA JUGA:Pelajar SD di Palembang Ikuti Asesmen Sumatif Akhir Semester Genap 2025-2026

Uang receh yang telah terkumpul siap ditukarkan menjadi uang kertas di layanan penukaran resmi.--Foto : ChatGpt
Selain menjadi sarana menabung, penggunaan uang fisik juga masih dianggap efektif sebagai media edukasi keuangan bagi anak-anak dan remaja. Dengan menabung menggunakan uang receh, mereka dapat belajar mengenal nilai uang, memahami pentingnya mengelola keuangan, serta membangun kebiasaan menabung sejak usia dini.
Bagi orang dewasa yang telah memiliki akses ke layanan perbankan dan keuangan digital, aktivitas menabung memang dapat dilakukan melalui rekening bank maupun dompet elektronik. Namun demikian, kebiasaan menyimpan uang receh tetap memiliki manfaat tersendiri, terutama bagi masyarakat yang masih aktif bertransaksi secara tunai.
Kebiasaan mengumpulkan uang logam juga dapat menjadi langkah awal untuk membangun dana tabungan yang nantinya bisa dialihkan ke instrumen investasi. Setelah terkumpul dalam jumlah tertentu, dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk membeli aset seperti emas atau kebutuhan investasi lainnya yang lebih produktif.
Di sisi lain, penggunaan uang logam saat ini memang semakin berkurang seiring berkembangnya sistem pembayaran digital. Banyak masyarakat memilih menggunakan kartu debit, kartu kredit, maupun aplikasi pembayaran elektronik karena dianggap lebih praktis dan cepat. Selain itu, transaksi di pusat perbelanjaan modern umumnya menggunakan nominal yang tidak genap sehingga pembayaran digital menjadi pilihan yang lebih efisien.
BACA JUGA:Suasana SPBU 24-30-175 Jakabaring Terpantau Normal, Antrean Kendaraan Tak Terlalu Padat
BACA JUGA:Tembus 87 Persen, ASN OKI Laksanakan Digitalisasi Pembayaran Pajak Daerah
Meski penggunaannya mulai berkurang, uang receh tetap memiliki nilai dan dapat ditukarkan menjadi uang kertas. Masyarakat dapat memanfaatkan berbagai layanan penukaran uang yang tersedia melalui lembaga keuangan maupun fasilitas penukaran resmi yang disediakan oleh otoritas terkait.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: berbagai sumber

