Mengenal Satuan Berat Emas Tradisional di Indonesia, dari Mayam hingga Tael
emas juga memiliki nilai simbolis yang kuat, terutama dalam adat pernikahan dan transaksi tradisional.--Freepik
PALTV.CO.ID,- Beragamnya budaya dan tradisi di Indonesia turut memengaruhi cara masyarakat mengenal serta menakar emas.
Tidak hanya digunakan sebagai perhiasan atau alat investasi, emas juga memiliki nilai simbolis yang kuat, terutama dalam adat pernikahan dan transaksi tradisional.
Menariknya, di berbagai daerah, emas tidak selalu diukur menggunakan satuan gram seperti standar internasional.
Sebaliknya, masyarakat masih mempertahankan istilah dan takaran lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Penggunaan satuan berat emas tradisional ini hingga kini masih hidup dan dipraktikkan, khususnya di wilayah yang kuat memegang adat.
BACA JUGA:Yamaha Fazzio 2026 Hadir dengan Warna Baru, Tampil Lebih Unik dan Ramah Anak Muda
BACA JUGA:Baru Diresmikan November Lalu, Jembatan Gandus Mulai Retak, Warga Cemas
Meskipun di era modern sistem metrik sudah dikenal luas, istilah lokal tetap digunakan karena dianggap lebih dekat dengan budaya dan nilai sejarah setempat.
Berikut ini adalah gambaran mengenai beberapa sebutan berat emas tradisional yang masih dikenal dan digunakan di berbagai daerah di Indonesia, beserta konversinya ke dalam satuan gram.
Mayam di Aceh
Di Aceh, istilah mayam sangat populer dan hampir selalu dikaitkan dengan mahar pernikahan.

di berbagai daerah, emas tidak selalu diukur menggunakan satuan gram--Freepik
Dalam adat Aceh, jumlah mahar sering disebutkan dalam satuan mayam, bukan gram.
Hal ini menunjukkan betapa kuatnya peran satuan tradisional dalam kehidupan sosial masyarakat setempat.
Secara umum, 1 mayam setara dengan sekitar 3,33 gram emas.
Angka ini paling banyak digunakan dan diterima secara luas di Aceh.
BACA JUGA:Sejumlah Pejabat Pemkot Palembang Belum Definitif, Pansel Segera Dibentuk
BACA JUGA:Sejumlah Pejabat Pemkot Palembang Belum Definitif, Pansel Segera Dibentuk
Namun, dalam praktiknya, terdapat juga sebagian masyarakat yang menganggap 1 mayam sama dengan 3 gram.
Perbedaan kecil ini biasanya bergantung pada kesepakatan kedua belah pihak, terutama dalam konteks pernikahan.
Meski begitu, patokan 3,33 gram tetap dianggap sebagai standar tidak tertulis yang paling umum.
Suku di Sumatera
Istilah suku dikenal luas di beberapa wilayah Sumatera, seperti Sumatera Selatan (Palembang) dan Sumatera Utara.

Penggunaan satuan berat emas tradisional ini hingga kini masih hidup dan dipraktikkan,--Freepik
Dalam perdagangan emas tradisional, satuan suku kerap digunakan untuk menentukan berat perhiasan maupun emas batangan skala kecil.
Di Sumatera Selatan pada umumnya, 1 suku setara dengan 6,7 gram emas.
BACA JUGA:Kejari Palembang Tetapkan 2 Tersangka Baru Kasus Korupsi Belanja Bahan Bangunan Perkimtan
BACA JUGA:Lampu LED Morbidelli C252V: Perpaduan Fungsionalitas dan Gaya Modern
Konversi ini paling sering digunakan dalam jual beli perhiasan emas.
Namun, di beberapa daerah tertentu, dikenal pula perhitungan lain, di mana 1 suku dianggap setara dengan 3,75 gram.
Meski ada variasi tersebut, penggunaan 6,7 gram sebagai patokan jauh lebih populer dan praktis.
Menariknya, dalam sistem tradisional ini terdapat satuan yang lebih besar, yakni 10 suku yang setara dengan 1 katun atau 1 buku, dengan berat sekitar 37,5 gram.
Satuan ini biasanya digunakan untuk transaksi emas dalam jumlah lebih besar.
Bumbu di Beberapa Daerah Sumatera
BACA JUGA:Kapolri Mutasi Sejumlah Perwira Tinggi, Irjen Pol Sandi Nugroho Jabat Kapolda Sumsel
BACA JUGA:Baru Diresmikan November Lalu, Jembatan Gandus Mulai Retak, Warga Cemas
Selain suku, ada pula istilah bumbu yang digunakan di beberapa wilayah Sumatera.
Bumbu umumnya merujuk pada ukuran emas dalam skala kecil dan sering dipakai dalam konteks perhiasan.
Dalam banyak kasus, 1 bumbu disamakan dengan 1 suku, yakni sekitar 2,5 gram emas.
Namun, seperti satuan tradisional lainnya, bumbu juga memiliki variasi lokal tergantung daerah dan kebiasaan masyarakat setempat.
Karena itulah, penyebutan bumbu sering kali memerlukan klarifikasi agar tidak terjadi kekeliruan dalam transaksi.
Mata di Kalimantan dan Sulawesi
Di beberapa wilayah Kalimantan dan Sulawesi, dikenal satuan kecil yang disebut mata.
BACA JUGA:Kapolri Mutasi Sejumlah Perwira Tinggi, Irjen Pol Sandi Nugroho Jabat Kapolda Sumsel
BACA JUGA:Luar Biasa! LRT Sumsel Catat 49.295 Penumpang pada Libur Isra Mikraj
Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan potongan emas yang sangat ringan, misalnya pada perhiasan berukuran kecil atau detail tertentu.
Berat 1 mata emas umumnya berkisar antara 0,1 gram hingga 0,15 gram, tergantung daerah spesifik dan kesepakatan yang berlaku.
Karena ukurannya yang sangat kecil, satuan mata jarang digunakan dalam transaksi besar, tetapi masih dikenal dalam konteks tradisional dan kerajinan perhiasan.
Tael atau Tahil di Kalimantan Barat
Di wilayah Pontianak dan sekitarnya, pengaruh budaya Tionghoa sangat terasa dalam sistem penakaran emas.
Salah satu satuan yang dikenal adalah tael atau tahil. Istilah ini berasal dari sistem perdagangan Tiongkok kuno yang kemudian diadaptasi dalam aktivitas ekonomi lokal.
Secara umum, 1 tael setara dengan 37,5 gram emas, yang juga sama dengan 10 suku.
BACA JUGA:Lampu LED Morbidelli C252V: Perpaduan Fungsionalitas dan Gaya Modern
BACA JUGA:Pasca Dimakamkan, Pelayat Haji Halim Masih Berdatangan
Satuan ini biasanya digunakan untuk emas dalam jumlah relatif besar dan sering dijadikan acuan dalam perdagangan tradisional maupun warisan keluarga.
Mengapa Satuan Emas Bisa Berbeda-beda?
Perbedaan satuan berat emas di Indonesia tidak muncul tanpa sebab.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: berbagai sumber
