Bayang-Bayang Tarif Trump: 5 Kebijakan Dagang yang Bisa Mengguncang Harga Bitcoin Sepanjang 2026
faktor besar yang kembali menghantui pasar kripto: kebijakan tarif dagang Presiden Amerika Serikat,--Chat GPT image
PALTV.CO.ID,- Bitcoin memasuki tahun 2026 bukan hanya dengan cerita soal halving, adopsi institusional, atau analisis grafik teknikal.
Ada satu faktor besar yang kembali menghantui pasar kripto: kebijakan tarif dagang Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Sepanjang 2025, pasar sudah berkali-kali merasakan bagaimana satu pernyataan soal tarif mampu menggerakkan Bitcoin lebih cepat dibandingkan laporan inflasi atau arus dana ETF.
Ketika tarif dibahas, sentimen global berubah, likuiditas mengetat, dan aset berisiko—termasuk kripto—langsung bereaksi.
Di 2026 sejumlah agenda tarif Trump berpotensi kembali menjadi “penentu arah” harga Bitcoin. Berikut lima kebijakan tarif yang paling layak diwaspadai investor kripto.
BACA JUGA:Dari Perhiasan Set hingga Emas Batangan, Inilah Tren Mahar Pernikahan di Palembang
BACA JUGA:Gaji UMR tapi Harus Menanggung Keluarga? Ini Cara Sandwich Generation Bertahan
1. Ancaman Tarif 100% untuk Produk China
Trump pernah mengejutkan pasar pada Oktober 2025 dengan wacana tarif 100% untuk seluruh impor dari China, sebelum akhirnya kebijakan tersebut ditunda. Namun, penundaan bukan berarti pembatalan.
Jika skenario ini diaktifkan kembali pada 2026, pasar global hampir pasti langsung membaca sinyal perlambatan ekonomi dan tekanan inflasi yang lebih lama. Kombinasi ini biasanya memicu sikap defensif investor.
Bagi Bitcoin, fase awal kebijakan semacam ini sering diwarnai aksi jual cepat.

faktor besar yang kembali menghantui pasar kripto: kebijakan tarif dagang Presiden Amerika Serikat,--Chat GPT image
Likuiditas mengetat, dolar menguat, dan aset berisiko dilepas lebih dulu. Narasi Bitcoin sebagai lindung nilai inflasi biasanya baru muncul setelah pasar menemukan titik keseimbangan baru.
BACA JUGA:Redmi Note 15 dan Realme 16 Pro Meluncur Besok, Ini Semua yang Perlu Anda Ketahui
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: indodax

