Bitcoin Hadapi Titik Balik Usai Gejolak 2025, Arah 2026 Jadi Sorotan

Bitcoin Hadapi Titik Balik Usai Gejolak 2025, Arah 2026 Jadi Sorotan

Bitcoin menutup tahun 2025 dengan pergerakan harga yang penuh gejolak dan di luar ekspektasi --Chat GPT image

PALTV.CO.ID,- Bitcoin menutup tahun 2025 dengan pergerakan harga yang penuh gejolak dan di luar ekspektasi banyak pelaku pasar.

Setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) di kisaran 126.000 dolar Amerika Serikat, aset kripto terbesar di dunia ini justru mengalami koreksi tajam menjelang akhir tahun.

Harga Bitcoin bahkan berpotensi mengakhiri 2025 di bawah level 90.000 dolar AS, memunculkan tanda tanya besar terkait prospeknya pada 2026.

Kondisi tersebut dinilai menandai perubahan fase dalam dinamika pasar kripto global.

Sejumlah analis menilai pergerakan Bitcoin tidak lagi sepenuhnya mengikuti pola siklus empat tahunan seperti yang terjadi pada periode-periode sebelumnya.

Saat ini, arah harga Bitcoin lebih banyak dipengaruhi oleh kombinasi faktor makroekonomi, kondisi likuiditas global, serta meningkatnya peran investor institusional.

BACA JUGA:Menjelajah Kota Berdua dengan Cara Berbeda: Romantisme Sederhana Lewat Rental Motor

BACA JUGA:Libur Tahun Baru, Jembatan Ampera Dipadati Wisatawan

Arah Kebijakan The Fed Jadi Faktor Kunci

Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).

Sepanjang 2025, The Fed tercatat telah memangkas suku bunga acuan sebanyak tiga kali. Namun, sinyal paling krusial justru datang dari keputusan penghentian kebijakan Quantitative Tightening (QT).


Harga Bitcoin bahkan berpotensi mengakhiri 2025 di bawah level 90.000 dolar AS,--Chat GPT image

Penghentian QT berarti The Fed tidak lagi mengurangi neraca keuangannya, yang saat ini berada di kisaran 6,5 triliun dolar AS.

Langkah ini dinilai mampu meredakan tekanan likuiditas di pasar keuangan global. Dengan berhentinya QT, peluang untuk memasuki fase Quantitative Easing (QE) di masa mendatang pun terbuka lebar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: berbagai sumber